Masyasih #12 Mengelak Kehendak

Mengelak Kehendak

"Boleh jadi yang selama ini kita anggap sulit bukanlah pekerjaannya, melainkan kemampuan kita yang belum sampai untuk mengerjakannya."

Bismillah.

Ada satu hal yang belakangan sering saya renungkan.

Saya meyakini bahwa aktivitas pada hakikatnya tidak memiliki sifat.

Yang memiliki sifat adalah cara pandang orang yang melakukan aktivitas tersebut.

Mungkin terdengar aneh.

Mari kita coba pelan-pelan.


Pertandingan Itu Tidak Sulit

Misalnya ada berita yang berbunyi,

"Timnas Indonesia akan menghadapi pertandingan sulit melawan Argentina."

Sekilas kalimat itu terdengar benar.

Namun jika dicermati lebih dalam, benarkah pertandingan itu sendiri memiliki sifat "sulit"?

Bukankah pertandingan itu tetaplah sebuah pertandingan?

Yang memandangnya sulit adalah Timnas Indonesia, karena lawan yang dihadapi memiliki kualitas yang secara umum dianggap lebih tinggi.

Sebaliknya, jika dilihat dari sudut pandang Argentina, pertandingan yang sama kemungkinan tidak dipersepsikan sebagai pertandingan yang berat.

Aktivitasnya sama.

Pertandingannya sama.

Yang berbeda hanyalah perspektif pelakunya.


Sulit Itu Relatif

Hal yang sama terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang ahli matematika mungkin tersenyum ketika diminta menyelesaikan soal trigonometri yang rumit.

Namun ia bisa saja kebingungan ketika diminta menuliskan reaksi kimia organik yang kompleks.

Sebaliknya, seorang ahli kimia mungkin merasa soal tersebut sangat mudah.

Lalu siapa yang benar?

Keduanya benar.

Karena kesulitan tidak melekat pada soalnya.

Kesulitan lahir dari kemampuan orang yang sedang menghadapinya.


Kita Sering Salah Meletakkan Sifat

Tanpa disadari, kita sering mengatakan,

"Pekerjaan ini sulit."

"Materi ini sulit."

"Bisnis itu sulit."

"Menghafal Al-Qur'an itu sulit."

Padahal mungkin yang lebih tepat adalah,

"Aku belum cukup mampu mengerjakan pekerjaan ini."

"Aku belum cukup memahami materi ini."

"Aku belum cukup terampil menjalankan bisnis ini."

"Aku belum terbiasa menghafal Al-Qur'an."

Perbedaannya terlihat sederhana.

Namun dampaknya sangat besar.

Kalimat pertama membuat kita merasa objeknya yang bermasalah.

Sedangkan kalimat kedua membuat kita sadar bahwa diri kitalah yang perlu bertumbuh.


Meletakkan Sesuatu pada Tempatnya

Para ulama sering mengajarkan pentingnya memahami hakikat sesuatu.

Meletakkan sesuatu sesuai tempatnya.

Tidak berlebihan.

Tidak pula menguranginya.

Karena ketika kita salah meletakkan sebuah sifat, cara berpikir kita pun perlahan ikut bergeser.


Tentang Sebuah Doa

Hal ini mengingatkan saya pada dua bentuk doa yang sekilas terdengar sama.

"Semoga Allah memudahkanmu dalam urusanmu."

dan

"Semoga urusanmu dimudahkan oleh Allah."

Keduanya tentu merupakan doa yang baik.

Dan Allah Maha Kuasa untuk mengabulkan keduanya.

Namun jika direnungkan, ada nuansa yang sedikit berbeda.

Ketika kita berdoa agar Allah memudahkan seseorang dalam urusannya, yang terbayang adalah Allah memberikan kekuatan, ilmu, kesabaran, jalan keluar, serta kemampuan sehingga ia mampu menyelesaikan urusan tersebut dengan lebih baik.

Kesulitannya mungkin tetap ada.

Tetapi kapasitas dirinya bertambah.

Ia menjadi lebih siap menghadapinya.

Sedangkan jika dipahami secara harfiah, doa agar urusan itu sendiri dipermudah bisa saja dipersepsikan seolah-olah tingkat kesulitannya yang berubah.

Padahal, bukankah yang lebih sering Allah lakukan adalah memperbesar kapasitas hamba-Nya, bukan mengecilkan nilai ujiannya?


Sunatullah dalam Kehidupan

Inilah yang saya pahami sebagai salah satu bentuk sunatullah.

Allah menumbuhkan kemampuan manusia melalui proses.

Semakin sering belajar, semakin mudah memahami.

Semakin sering berlatih, semakin terampil.

Semakin banyak pengalaman, semakin matang mengambil keputusan.

Aktivitas yang dahulu terasa berat, perlahan menjadi ringan.

Bukan karena aktivitasnya berubah.

Tetapi karena diri kita telah berubah.


Maka Teruslah Bertumbuh

Mungkin hari ini ada banyak hal yang terasa sulit.

Belajar.

Bekerja.

Berdakwah.

Mendidik anak.

Membangun organisasi.

Menjaga keistiqamahan.

Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa semuanya terlalu berat.

Bisa jadi Allah sedang mengajak kita untuk bertumbuh.

Karena ketika kapasitas diri meningkat, aktivitas yang sama akan terasa jauh lebih ringan dibandingkan dahulu.


Penutup

Pada akhirnya saya menyadari bahwa mungkin selama ini bukan dunia yang terlalu sulit.

Melainkan diri saya yang masih perlu banyak belajar.

Bukan ujiannya yang harus mengecil.

Tetapi kemampuan saya yang harus terus membesar.

Maka jangan pernah lelah menambah ilmu, memperbaiki diri, dan terus berlatih.

Karena semakin Allah meluaskan kapasitas seorang hamba, semakin banyak amanah yang mampu ia pikul.

Dan ketika itu terjadi, aktivitas yang dulu terasa mustahil, perlahan berubah menjadi sesuatu yang biasa.

Bukan karena dunianya berubah.

Tetapi karena Allah telah mengubah diri kita.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Salam YASSSSSSSHHHHHH!!!

Komentar