Hakikat Kenikmatan yang Sering Kita Lupakan
"Sering kali kita mengira kenikmatan berasal dari apa yang kita miliki. Padahal, kenikmatan itu baru benar-benar terasa ketika Allah mengizinkan kita untuk menikmatinya."
Pernahkah kamu menyantap makanan favoritmu?
Mungkin semangkuk bakso yang kuahnya masih mengepul.
Sepiring nasi goreng dengan aroma yang menggugah selera.
Atau secangkir kopi hangat yang selalu menjadi teman di pagi hari.
Saat suapan pertama masuk ke mulut, kita spontan berkata,
"Wah... enak sekali."
Seolah-olah kenikmatan itu berasal dari makanan yang sedang kita santap.
Namun, pernahkah kita mengalami kondisi yang berbeda?
Makanan yang sama.
Rasa yang sama.
Tempat yang sama.
Tetapi kenikmatannya hilang.
Mengapa?
Karena saat itu tubuh kita sedang sakit.
Demam membuat lidah terasa pahit.
Flu membuat hidung kehilangan kemampuan mencium aroma.
Sakit tenggorokan membuat setiap suapan terasa menyiksa.
Ternyata...
Yang berubah bukan makanannya.
Yang berubah adalah kondisi diri kita.
Nikmat Itu Tidak Berasal dari Makanan
Di sinilah saya mulai berpikir.
Selama ini kita sering menganggap bahwa kenikmatan berasal dari objek yang kita nikmati.
Padahal, hakikatnya bukan demikian.
Kenikmatan bukan semata-mata ada pada makanan.
Bukan pula pada minuman.
Bukan pada pakaian.
Bukan pada kendaraan.
Bukan juga pada rumah yang kita tempati.
Hakikat kenikmatan ada pada karunia Allah yang membuat kita mampu menikmati semua itu.
Kalau Allah mencabut kesehatan lidah, makanan terenak sekalipun tidak lagi terasa istimewa.
Kalau Allah mencabut kesehatan lambung, hidangan mewah justru menjadi sesuatu yang harus dihindari.
Kalau Allah mencabut kemampuan tubuh untuk mencerna makanan, apa lagi yang bisa kita banggakan dari sebuah hidangan?
Nikmat Bernapas yang Hampir Tidak Pernah Kita Syukuri
Hal yang sama terjadi pada udara.
Setiap hari kita menghirup oksigen.
Tanpa membayar.
Tanpa menghitung berapa kali kita bernapas.
Tanpa pernah khawatir apakah udara masih tersedia beberapa detik lagi.
Semuanya terasa biasa.
Karena sudah terlalu sering kita rasakan.
Padahal, coba bayangkan sejenak seseorang yang sedang terbaring di rumah sakit.
Setiap tarikan napas terasa berat.
Ia membutuhkan bantuan oksigen.
Bahkan suara alat bantu pernapasan menjadi teman yang terus menemaninya.
Barulah saat itu kita menyadari...
Ternyata menghirup udara bebas adalah nikmat yang luar biasa.
Bukan karena oksigennya baru diciptakan hari itu.
Tetapi karena Allah masih mengizinkan paru-paru kita bekerja dengan baik.
Kita Sering Menyadari Nikmat Setelah Kehilangannya
Inilah salah satu sifat manusia.
Kita sering baru menyadari nilai sebuah nikmat setelah nikmat itu diambil sementara.
Kesehatan terasa mahal ketika sakit.
Waktu terasa berharga ketika kesempatan telah lewat.
Orang tua terasa begitu berarti ketika mereka mulai menua atau telah tiada.
Persahabatan terasa indah ketika jarak memisahkan.
Bukankah Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa ada dua nikmat yang sering membuat manusia tertipu, yaitu kesehatan dan waktu luang?
Dua nikmat yang hampir setiap hari kita miliki, tetapi sering kali paling sedikit kita syukuri.
Syukur Adalah Cara Menjaga Nikmat
Mungkin karena itulah Allah begitu sering memerintahkan hamba-Nya untuk bersyukur.
Bukan karena Allah membutuhkan syukur kita.
Tetapi karena manusialah yang membutuhkan kesadaran bahwa semua yang dimilikinya hanyalah titipan.
Syukur membuat hati tidak mudah mengeluh.
Syukur membuat kita melihat apa yang masih ada, bukan hanya apa yang belum dimiliki.
Syukur juga membuat kita menikmati hal-hal sederhana yang selama ini sering luput dari perhatian.
Senyum keluarga.
Udara pagi.
Tubuh yang sehat.
Langkah kaki yang masih kuat.
Mata yang masih mampu membaca tulisan ini.
Semuanya adalah nikmat.
Hakikat Kenikmatan
Pada akhirnya saya menyadari bahwa kenikmatan bukan terletak pada banyaknya nikmat yang kita miliki.
Melainkan pada kemampuan hati untuk menyadari bahwa semua itu berasal dari Allah.
Karena tanpa izin-Nya, makanan terenak tidak lagi terasa lezat.
Udara segar tidak lagi mampu kita hirup.
Tubuh yang selama ini bekerja tanpa kita sadari bisa berhenti menjalankan fungsinya.
Maka, sebelum Allah mengingatkan kita melalui kehilangan...
Alangkah indahnya jika kita belajar bersyukur ketika semua nikmat itu masih ada.
Penutup
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang pandai bersyukur.
Bukan hanya ketika memperoleh sesuatu yang besar.
Tetapi juga ketika masih mampu menikmati hal-hal kecil yang sering kita anggap biasa.
Karena bisa jadi, nikmat terbesar dalam hidup bukanlah apa yang kita miliki.
Melainkan apa yang masih Allah izinkan untuk kita rasakan setiap detik.
Semoga kita mampu menempatkan setiap kenikmatan pada hakikatnya, sehingga tidak tertipu oleh indahnya dunia, tetapi semakin dekat kepada Sang Pemberi Nikmat.
Salam YASSSSSSSHHHHHH!!!

Komentar
Posting Komentar