RINGKASAN BUKU Bagaimana Menyentuh Hati: Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah

 

RINGKASAN BUKU

Bagaimana Menyentuh Hati: Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah

Penulis: Abbas Hasan As-Siisi

Pendahuluan

Buku Bagaimana Menyentuh Hati ditulis oleh Abbas Hasan As-Siisi sebagai respons terhadap maraknya dakwah yang dilakukan dengan kekerasan, sikap kasar, dan tindakan yang tidak bijaksana. Penulis mengajak para dai untuk kembali meneladani metode dakwah Rasulullah SAW yang mengutamakan kelembutan, kasih sayang, dan komunikasi yang mampu menyentuh hati manusia. Menurut penulis, seorang muslim tidak cukup hanya rajin beribadah secara individual, tetapi juga harus memiliki kepedulian sosial dan semangat berdakwah agar ajaran Islam dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.


BAB I. Jalan Menuju Hati Manusia

Bab pertama menjelaskan bahwa hati merupakan pusat perubahan dalam diri manusia. Oleh karena itu, tujuan utama seorang dai bukan sekadar menyampaikan ilmu, tetapi mampu membuka hati mad'u agar menerima kebenaran dengan kesadaran sendiri.

Penulis menjelaskan bahwa pendekatan yang keras hanya akan membuat seseorang menjauh. Sebaliknya, kelembutan, kasih sayang, dan akhlak yang baik merupakan jalan yang diajarkan Al-Qur'an dan dicontohkan Rasulullah SAW. Hal ini diperkuat dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang memerintahkan berbicara dengan lemah lembut, bahkan kepada Fir'aun sekalipun.

Pokok-pokok pembahasan:

  • Dakwah merupakan misi setiap muslim.
  • Hati tidak dapat dipaksa, tetapi harus disentuh.
  • Akhlak yang baik lebih efektif daripada kekerasan.
  • Dakwah bertujuan membangun cinta kepada Allah dan sesama manusia.

BAB II. Memulai Hubungan dengan Orang Lain

Penulis menekankan bahwa keberhasilan dakwah dimulai dari kemampuan membangun hubungan yang baik. Salah satu cara sederhana tetapi sangat berpengaruh adalah mengenal dan mengingat nama seseorang.

Menurut Abbas Hasan As-Siisi, nama merupakan identitas yang paling disukai oleh setiap orang. Ketika seorang dai memanggil seseorang dengan namanya, ia akan merasa dihargai dan diperhatikan. Penulis bahkan memberikan beberapa cara praktis menghafal nama, seperti menghubungkan nama dengan wajah, pekerjaan, tempat perkenalan, atau menuliskannya agar mudah diingat. Mengingat nama dipandang sebagai langkah awal dalam membangun persahabatan dan membuka pintu dakwah.

Penulis juga menceritakan pengalamannya ketika bertemu dua orang yang belum dikenalnya di kantor cabang Ikhwanul Muslimin. Karena sebelumnya ia pernah mendengar nama mereka di perjalanan, ia menyapa keduanya dengan nama masing-masing. Peristiwa sederhana itu membuat mereka merasa dihargai dan menjadi awal terjalinnya hubungan yang akrab. Kisah tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap hal-hal kecil dapat memberikan kesan yang mendalam.

Pada bagian ini, penulis juga mengisahkan kebiasaan Hasan Al-Banna yang sangat gemar menghafal nama orang-orang yang ditemuinya. Kemampuan tersebut bukan sekadar daya ingat yang baik, melainkan bentuk perhatian dan penghargaan kepada setiap individu. Karena merasa dihargai, banyak orang menjadi lebih dekat dengan Hasan Al-Banna dan mudah menerima nasihat serta dakwah yang beliau sampaikan.


BAB III. Belajar dari Rasulullah SAW dalam Memikat Hati

Bab ini berisi kisah-kisah Rasulullah SAW yang menunjukkan bagaimana beliau menyentuh hati manusia melalui komunikasi yang santun.

Kisah utama yang diangkat adalah pertemuan Rasulullah SAW dengan Adas, seorang pemuda Nasrani dari Ninawa, setelah peristiwa Thaif. Rasulullah tidak langsung mengajak Adas masuk Islam. Beliau memulai percakapan dengan membaca Bismillahirrahmanirrahim, kemudian memanggil Adas dengan namanya, menanyakan asal daerah dan agamanya, serta menghubungkan pembicaraan dengan Nabi Yunus AS yang berasal dari daerah yang sama. Pendekatan yang penuh penghormatan tersebut membuat Adas terkesan dan akhirnya mengakui bahwa Muhammad adalah seorang nabi.

Penulis kemudian menjelaskan bahwa keberhasilan Rasulullah bukan terletak pada perdebatan, melainkan pada kemampuan beliau membangun kedekatan emosional. Dari kisah ini, penulis mengambil beberapa pelajaran penting:

  • menampilkan identitas seorang muslim melalui akhlak dan sunnah;
  • memanggil orang dengan namanya;
  • menghargai latar belakang lawan bicara;
  • membangun dialog secara bertahap;
  • menyampaikan dakwah dengan kelembutan.

Setelah menjelaskan keteladanan Rasulullah SAW, penulis menghadirkan pengalaman Hasan Al-Banna sebagai penerus metode dakwah tersebut. Hasan Al-Banna dikenal sangat dekat dengan masyarakat, mudah bergaul, rendah hati, dan memperlakukan setiap orang seperti anggota keluarganya sendiri. Beliau tidak membedakan kedudukan seseorang sehingga banyak orang merasa nyaman berada di dekatnya. Penulis menilai bahwa keberhasilan Hasan Al-Banna dalam membina generasi pertama Ikhwanul Muslimin lahir dari kemampuannya memahami hati manusia sebelum memberikan pengajaran.


BAB IV. Bahasa Tubuh dan Sentuhan Kasih Sayang

Penulis menjelaskan bahwa dakwah tidak hanya dilakukan melalui kata-kata, tetapi juga melalui komunikasi nonverbal.

Beberapa bentuk komunikasi tersebut antara lain:

  • tersenyum;
  • berjabat tangan;
  • memegang tangan dengan penuh kasih sayang;
  • menepuk pundak;
  • memandang dengan wajah ceria.

Penulis mengutip beberapa hadis yang menunjukkan bagaimana Rasulullah SAW berjabat tangan, memegang tangan Mu'adz bin Jabal sambil mengatakan bahwa beliau mencintainya, serta tidak melepaskan tangan orang lain sebelum orang tersebut melepaskannya terlebih dahulu. Semua tindakan tersebut menunjukkan bahwa sentuhan yang tulus mampu mempererat hubungan antarsesama muslim.


BAB V. Dakwah Fardiyah

Pada bagian ini penulis menjelaskan konsep dakwah fardiyah, yaitu dakwah yang dilakukan secara personal. Menurut penulis, pendekatan individual lebih efektif dibandingkan ceramah umum karena memungkinkan terjadinya dialog yang terbuka, tenang, dan mendalam. Melalui dakwah fardiyah, seorang dai dapat memahami kondisi psikologis, sosial, dan pemikiran mad'u sehingga pesan yang disampaikan lebih tepat sasaran.

Penulis juga mengisahkan pengalaman pribadinya ketika diundang berbicara di hadapan sekelompok pemuda. Meskipun acara berlangsung dengan baik, ia merasakan suasana yang dingin dan kurang mencerminkan ukhuwah. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa dakwah tidak cukup hanya menyampaikan materi, tetapi juga harus menghadirkan kehangatan, perhatian, dan rasa persaudaraan di antara sesama muslim.


Kesimpulan

Melalui buku Bagaimana Menyentuh Hati, Abbas Hasan As-Siisi menegaskan bahwa dakwah yang berhasil adalah dakwah yang mampu menyentuh hati sebelum mengajak kepada perubahan. Rasulullah SAW menjadi teladan utama dalam membangun hubungan dengan manusia melalui kelembutan, penghargaan, dan kasih sayang, sebagaimana terlihat dalam kisah beliau bersama Adas. Metode tersebut kemudian dicontohkan oleh Hasan Al-Banna yang membangun kedekatan dengan masyarakat melalui kerendahan hati, perhatian kepada setiap individu, dan kemampuan mengingat nama orang yang ditemuinya. Penulis juga menekankan pentingnya komunikasi verbal dan nonverbal, seperti senyum, salam, berjabat tangan, serta dakwah fardiyah sebagai sarana membangun kepercayaan. Secara keseluruhan, buku ini mengajarkan bahwa keberhasilan dakwah lebih ditentukan oleh akhlak, empati, dan hubungan kemanusiaan daripada kemampuan berbicara atau berdebat semata.

Komentar