SERI SEJARAH ISLAM #27 Nabi Musa AS: Bayi yang Dihanyutkan ke Sungai hingga Diutus Menghadapi Fir'aun
Pendahuluan
Nabi Musa AS merupakan salah satu Nabi yang paling banyak disebut dalam Al-Qur'an. Kisah beliau tersebar di berbagai surah, antara lain Al-Baqarah, Al-A'raf, Yunus, Hud, Thaha, Al-Qashash, dan Asy-Syu'ara.
Kisah Musa AS juga memiliki hubungan erat dengan sejarah Bani Israil, Fir'aun, Mesir, dan perjalanan sebuah kaum dari penindasan menuju keselamatan.
Namun sebelum Musa menjadi pemimpin Bani Israil, kehidupannya dimulai dari sebuah keadaan yang sangat genting.
Ia lahir ketika Fir'aun sedang melakukan penindasan terhadap Bani Israil.
Bayi laki-laki dari kalangan mereka dibunuh.
Tetapi justru pada masa itulah Allah menetapkan bahwa seorang bayi dari Bani Israil akan menjadi orang yang kelak berhadapan langsung dengan Fir'aun.
Allah berfirman:
وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu, menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi.”
(QS. Al-Qashash: 5)
1. Fir'aun Menindas Bani Israil
Pada masa itu, Bani Israil berada di bawah kekuasaan Fir'aun.
Allah menggambarkan Fir'aun sebagai orang yang:
“berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berkelompok-kelompok.”
(QS. Al-Qashash: 4)
Fir'aun melemahkan salah satu kelompok masyarakat, yaitu Bani Israil.
Al-Qur'an menyebut bahwa ia:
“menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka.”
(QS. Al-Qashash: 4)
Dengan demikian, kelahiran bayi laki-laki dari Bani Israil menjadi sesuatu yang sangat berbahaya.
Dan di tengah kondisi itulah Musa AS dilahirkan.
2. Allah Mengilhamkan Ibu Musa
Allah berfirman:
“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, ‘Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai.’”
(QS. Al-Qashash: 7)
Perintah tersebut secara manusiawi tampak sangat berat.
Seorang ibu diperintahkan meletakkan bayinya ke dalam sebuah peti lalu menghanyutkannya ke sungai.
Namun Allah memberikan jaminan:
“Dan janganlah kamu takut dan jangan pula bersedih hati. Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya salah seorang dari para rasul.”
(QS. Al-Qashash: 7)
Inilah awal perjalanan luar biasa Musa AS.
3. Bayi Musa Ditemukan Keluarga Fir'aun
Bayi Musa kemudian ditemukan oleh keluarga Fir'aun.
Allah berfirman:
“Maka dia dipungut oleh keluarga Fir'aun agar kelak dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.”
(QS. Al-Qashash: 8)
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana Allah dapat menggunakan sesuatu yang berada di pusat kekuasaan musuh untuk menjadi bagian dari rencana penyelamatan seorang Nabi.
Bayi yang seharusnya dibunuh oleh kebijakan Fir'aun justru masuk ke lingkungan istananya.
4. Istri Fir'aun Meminta Agar Musa Tidak Dibunuh
Allah menyebutkan:
“Istri Fir'aun berkata, ‘(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya. Mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita jadikan dia anak.’”
(QS. Al-Qashash: 9)
Al-Qur'an tidak menyebut nama istri Fir'aun dalam ayat tersebut.
Dalam tradisi Islam, ia dikenal sebagai Asiyah, dan namanya masyhur dalam hadis serta literatur Islam.
Namun dalam artikel sejarah berbasis Al-Qur'an, penyebutan nama tersebut sebaiknya dibedakan dari informasi yang secara eksplisit terdapat dalam ayat.
5. Hati Ibu Musa Hampir Tidak Tahan
Setelah Musa dihanyutkan, hati ibunya menjadi sangat gelisah.
Allah berfirman:
“Dan hati ibu Musa menjadi kosong.”
(QS. Al-Qashash: 10)
Namun Allah meneguhkan hatinya agar ia tetap menjadi orang yang beriman.
Saudara perempuan Musa kemudian diperintahkan untuk mengikuti jejak Musa dari kejauhan.
Ia mengawasi ke mana bayi tersebut dibawa.
6. Musa Tidak Mau Menyusu kepada Perempuan Lain
Allah telah menetapkan bahwa Musa tidak mau menyusu kepada perempuan-perempuan lain.
“Dan Kami cegah dia menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui sebelum itu.”
(QS. Al-Qashash: 12)
Saudara perempuan Musa kemudian menawarkan seseorang yang dapat mengurus bayi tersebut.
Tanpa diketahui keluarga Fir'aun, orang tersebut sebenarnya adalah ibu kandung Musa sendiri.
Allah berfirman:
“Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya agar senang hatinya dan tidak bersedih hati.”
(QS. Al-Qashash: 13)
Dengan demikian, Allah mengembalikan Musa kepada ibunya melalui jalan yang tidak disangka-sangka.
7. Musa Tumbuh di Lingkungan Istana
Musa kemudian tumbuh hingga dewasa.
Allah berfirman:
“Dan setelah dia dewasa dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu.”
(QS. Al-Qashash: 14)
Al-Qur'an tidak memberikan rincian lengkap mengenai masa pendidikan Musa di istana.
Karena itu, berbagai cerita tentang guru-guru Musa, pendidikan formalnya, atau kehidupan pribadinya yang tidak bersumber dari wahyu harus diperlakukan sebagai riwayat tambahan.
8. Musa Membela Seorang dari Bani Israil
Pada suatu hari Musa masuk ke kota dan mendapati dua orang sedang berkelahi.
Salah satunya dari Bani Israil, sedangkan yang lain berasal dari kelompok musuhnya.
Orang dari Bani Israil meminta bantuan Musa.
Musa kemudian memukul orang tersebut.
Namun pukulan itu ternyata menyebabkan orang itu meninggal.
Allah berfirman:
“Musa memukulnya, lalu dia mati.”
(QS. Al-Qashash: 15)
Musa kemudian menyadari kesalahannya dan memohon ampun kepada Allah:
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah aku.”
(QS. Al-Qashash: 16)
Allah mengampuninya.
9. Musa Meninggalkan Mesir
Berita mengenai kematian tersebut akhirnya menyebar.
Seseorang datang dari ujung kota dan memperingatkan Musa:
“Wahai Musa! Sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu. Oleh karena itu, keluarlah.”
(QS. Al-Qashash: 20)
Musa kemudian meninggalkan Mesir dalam keadaan takut dan waspada.
Ia berdoa:
“Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim.”
(QS. Al-Qashash: 21)
Musa kemudian menuju arah Madyan.
10. Musa Sampai di Madyan
Ketika sampai di Madyan, Musa melihat sekelompok orang sedang memberi minum ternaknya.
Ia juga melihat dua perempuan yang menunggu.
Musa bertanya:
“Apa maksudmu berbuat demikian?”
Mereka menjawab:
“Kami tidak dapat memberi minum sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan ternaknya, sedangkan ayah kami sudah tua renta.”
(QS. Al-Qashash: 23)
Musa kemudian membantu mereka memberi minum.
Setelah itu ia pergi ke tempat teduh dan berdoa:
رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”
(QS. Al-Qashash: 24)
11. Musa Mendapat Tempat Tinggal di Madyan
Salah seorang perempuan tersebut kemudian datang kepada Musa.
Ia berkata bahwa ayahnya mengundang Musa untuk memberikan imbalan atas bantuannya.
Musa kemudian bertemu dengan ayah kedua perempuan tersebut.
Tokoh tersebut menawarkan Musa untuk bekerja selama beberapa tahun.
(QS. Al-Qashash: 25–27)
Al-Qur'an menyebut bahwa salah satu putrinya akan dinikahkan dengan Musa dengan syarat Musa bekerja selama delapan tahun, dan jika menyempurnakannya menjadi sepuluh tahun, itu merupakan kebaikan dari Musa.
(QS. Al-Qashash: 27)
Catatan penting
Al-Qur'an tidak menyebut nama ayah kedua perempuan tersebut.
Dalam banyak kitab tafsir dan tradisi Islam, ia sering diidentifikasi sebagai Nabi Syu'aib AS.
Namun identifikasi tersebut merupakan pendapat yang dikenal dalam literatur tafsir, bukan pernyataan eksplisit Al-Qur'an.
Karena itu, kita tidak menjadikannya sebagai fakta pasti.
12. Musa Tinggal di Madyan
Musa kemudian menyelesaikan masa yang telah disepakati.
Al-Qur'an menyebut:
“Musa berkata, ‘Itu adalah perjanjian antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu yang aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku.’”
(QS. Al-Qashash: 28)
Masa di Madyan menjadi fase penting dalam kehidupan Musa.
Dari seorang pemuda yang meninggalkan Mesir dalam keadaan takut, Musa menjalani kehidupan yang relatif jauh dari pusat kekuasaan.
Namun setelah masa tersebut berakhir, Allah menyiapkan Musa untuk tugas yang jauh lebih besar.
13. Musa Kembali Menuju Mesir
Setelah menyelesaikan masa tinggalnya di Madyan, Musa melakukan perjalanan bersama keluarganya.
Dalam perjalanan itu ia melihat api dari arah Gunung Thur.
Ia berkata kepada keluarganya:
“Tunggulah, sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita dari sana atau membawa sesuluh api agar kamu dapat menghangatkan badan.”
(QS. Al-Qashash: 29)
Musa kemudian mendatangi tempat tersebut.
Di sanalah kehidupannya berubah selamanya.
14. Allah Memanggil Musa
Ketika Musa sampai di tempat tersebut, Allah memanggilnya.
Allah berfirman:
“Wahai Musa!”
(QS. Thaha: 11)
Kemudian Allah berfirman:
إِنَّنِي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى
“Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskanlah kedua terompahmu; sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Tuwa.”
(QS. Thaha: 12)
Allah kemudian memperkenalkan diri-Nya kepada Musa dan memberikan wahyu kepadanya.
15. Musa Dipilih Menjadi Rasul
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan.”
(QS. Thaha: 13)
Kemudian Allah menyampaikan prinsip terbesar:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.”
(QS. Thaha: 14)
Sekali lagi kita menemukan pola yang sama dalam sejarah para Nabi:
Tauhid menjadi inti risalah.
16. Allah Memberikan Mukjizat kepada Musa
Allah bertanya:
“Apakah itu yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?”
Musa menjawab bahwa itu adalah tongkatnya.
Allah kemudian memerintahkan Musa melemparkannya.
Tongkat tersebut berubah menjadi ular yang bergerak cepat.
(QS. Thaha: 17–20)
Musa merasa takut.
Allah berfirman:
“Jangan takut, wahai Musa!”
(QS. Thaha: 21)
Kemudian Allah mengembalikan tongkat itu seperti semula.
17. Tangan Musa Menjadi Bercahaya
Allah juga memberikan mukjizat lainnya.
Musa diperintahkan memasukkan tangannya ke ketiaknya.
Ketika dikeluarkan, tangannya tampak bercahaya.
Allah berfirman:
“Keluarkanlah, niscaya ia akan keluar putih bercahaya tanpa cacat.”
(QS. Thaha: 22)
Mukjizat tersebut menjadi salah satu tanda yang akan dibawa Musa ketika berhadapan dengan Fir'aun.
18. Musa Meminta Bantuan
Musa menyadari bahwa tugas yang akan dihadapinya sangat berat.
Ia kemudian berdoa:
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي
“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku dan mudahkanlah untukku urusanku.”
(QS. Thaha: 25–26)
Musa juga memohon:
“Lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka mengerti perkataanku.”
(QS. Thaha: 27–28)
Kemudian Musa meminta agar Harun AS dijadikan pendampingnya.
19. Nabi Harun AS Menjadi Pendamping Musa
Musa berkata:
“Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, yaitu Harun saudaraku.”
(QS. Thaha: 29–30)
Musa menjelaskan alasannya:
“Teguhkanlah kekuatanku dengan dia dan jadikanlah dia sebagai sekutu dalam urusanku.”
(QS. Thaha: 31–32)
Allah mengabulkan permintaan tersebut.
Musa dan Harun kemudian menjadi dua Nabi yang menjalankan misi menghadapi Fir'aun.
20. Musa Diperintahkan Menghadapi Fir'aun
Allah berfirman:
اذْهَبْ أَنتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي
“Pergilah kamu berdua dengan membawa mukjizat-mukjizat-Ku dan janganlah kamu berdua lalai mengingat-Ku.”
(QS. Thaha: 42)
Kemudian Allah berfirman:
اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ
“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas.”
(QS. Thaha: 43)
Musa dan Harun diperintahkan untuk berbicara kepadanya dengan cara yang baik:
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut.”
(QS. Thaha: 44)
Ini merupakan salah satu pelajaran dakwah yang sangat penting.
Bahkan kepada Fir'aun yang dikenal sebagai penguasa zalim, Musa dan Harun diperintahkan untuk menyampaikan dakwah dengan perkataan yang baik.
21. Apa yang Musa dan Harun Minta kepada Fir'aun?
Musa dan Harun membawa risalah Allah.
Dalam Surah Asy-Syu'ara, Musa berkata:
“Kami adalah utusan Tuhan seluruh alam.”
(QS. Asy-Syu'ara: 16)
Mereka meminta:
“Lepaskanlah Bani Israil bersama kami.”
(QS. Asy-Syu'ara: 17)
Jadi misi mereka memiliki dua sisi:
1. Menyeru Fir'aun kepada kebenaran dan tunduk kepada Allah.
2. Membebaskan Bani Israil dari penindasan.
22. Fir'aun Mengungkit Masa Lalu Musa
Fir'aun kemudian mengingatkan Musa tentang masa lalunya di lingkungan istana.
Ia berkata:
“Bukankah kami telah mengasuhmu di antara kami waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu?”
(QS. Asy-Syu'ara: 18)
Fir'aun juga mengungkit peristiwa kematian seorang dari kaumnya akibat pukulan Musa.
Musa menjawab dengan jujur bahwa peristiwa tersebut terjadi ketika dirinya belum mendapatkan petunjuk kenabian seperti sekarang.
(QS. Asy-Syu'ara: 20–21)
Kemudian Musa menegaskan bahwa Allah telah memberikan kepadanya hikmah dan menjadikannya sebagai salah seorang rasul.
23. Pertanyaan Besar Fir'aun
Fir'aun kemudian bertanya:
“Siapakah Tuhan seluruh alam itu?”
(QS. Asy-Syu'ara: 23)
Musa menjawab:
“Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu mempercayai.”
(QS. Asy-Syu'ara: 24)
Fir'aun kemudian mencoba mempermalukan Musa di hadapan para pembesarnya.
Namun Musa tetap melanjutkan dakwahnya.
24. Tongkat Musa dan Mukjizat Besar
Fir'aun kemudian meminta bukti.
Musa melemparkan tongkatnya.
Tongkat tersebut berubah menjadi ular yang nyata.
Kemudian Musa mengeluarkan tangannya dan tangan itu menjadi bercahaya.
(QS. Al-A'raf: 106–108)
Fir'aun menuduh Musa sebagai penyihir.
Ia kemudian mengumpulkan para ahli sihir untuk menghadapi Musa.
Peristiwa inilah yang akan menjadi salah satu episode terbesar dalam kisah Musa AS.
25. Apa yang Terjadi Selanjutnya?
Kisah Musa AS belum berakhir.
Justru dari sini dimulai rangkaian panjang:
Musa vs para penyihir Fir'aun → kemenangan mukjizat Allah → semakin kerasnya penindasan Fir'aun → berbagai tanda dan azab → keluarnya Bani Israil → terbelahnya laut → tenggelamnya Fir'aun → perjalanan Bani Israil → Taurat → Samiri dan anak sapi → berbagai ujian Bani Israil.
Rangkaian tersebut terlalu penting untuk diringkas menjadi satu paragraf.
Karena itu, seri berikutnya akan melanjutkan langsung dari titik ini.
26. Fakta Al-Qur'an dan Riwayat yang Harus Dibedakan
| Informasi | Status |
|---|---|
| Musa adalah Nabi dan Rasul Allah | Pasti – Al-Qur'an |
| Musa berasal dari Bani Israil | Pasti – Al-Qur'an |
| Fir'aun membunuh bayi laki-laki Bani Israil | Pasti – Al-Qur'an |
| Musa dihanyutkan ketika bayi | Pasti – Al-Qur'an |
| Musa ditemukan keluarga Fir'aun | Pasti – Al-Qur'an |
| Musa dikembalikan kepada ibunya | Pasti – Al-Qur'an |
| Musa pernah membunuh seseorang secara tidak sengaja | Pasti – Al-Qur'an |
| Musa pergi ke Madyan | Pasti – Al-Qur'an |
| Musa menikah dan tinggal di Madyan | Pasti – Al-Qur'an |
| Musa menerima wahyu di lembah Tuwa | Pasti – Al-Qur'an |
| Musa mendapatkan mukjizat tongkat | Pasti – Al-Qur'an |
| Musa mendapatkan mukjizat tangan bercahaya | Pasti – Al-Qur'an |
| Harun menjadi pendamping Musa | Pasti – Al-Qur'an |
| Musa diperintahkan menghadapi Fir'aun | Pasti – Al-Qur'an |
| Ayah mertua Musa adalah Nabi Syu'aib AS | Pendapat tafsir/tradisi; tidak disebut eksplisit dalam Al-Qur'an |
| Nama istri Musa | Tidak disebut dalam Al-Qur'an |
| Nama ibu Musa | Tidak disebut dalam Al-Qur'an |
| Nama istri Fir'aun adalah Asiyah | Nama masyhur dalam hadis/literatur Islam, bukan nama yang disebut Al-Qur'an |
| Nama Fir'aun yang dihadapi Musa | Tidak disebutkan secara personal dalam Al-Qur'an |
27. Pelajaran dari Fase Awal Kehidupan Musa
1. Allah dapat menyelamatkan seseorang melalui jalan yang tidak disangka
Musa justru tumbuh di lingkungan istana Fir'aun.
2. Takdir Allah berjalan meskipun manusia berusaha menggagalkannya
Fir'aun membunuh bayi laki-laki Bani Israil, tetapi Musa justru hidup.
3. Kesalahan tidak harus menjadi akhir kehidupan
Musa melakukan kesalahan dan kemudian memohon ampun kepada Allah.
4. Keberanian harus disertai doa
Sebelum menghadapi Fir'aun, Musa berdoa agar dadanya dilapangkan dan urusannya dimudahkan.
5. Dakwah membutuhkan pendamping
Musa meminta Harun sebagai pendukungnya.
6. Bahkan menghadapi penguasa zalim, dakwah harus disampaikan dengan cara yang baik
Allah berfirman:
“Berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut.”
(QS. Thaha: 44)
7. Allah tidak meninggalkan orang yang diberi tugas berat
Allah berfirman kepada Musa dan Harun:
“Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua; Aku mendengar dan melihat.”
(QS. Thaha: 46)
Kesimpulan
Kisah Nabi Musa AS dimulai dengan sebuah ironi besar.
Fir'aun berusaha membunuh bayi laki-laki Bani Israil untuk mempertahankan kekuasaannya.
Namun bayi yang hendak dimusnahkannya justru tumbuh di dalam lingkungan istananya sendiri.
Musa kemudian meninggalkan Mesir, tinggal di Madyan, dan setelah bertahun-tahun kembali sebagai seorang Rasul Allah.
Di lembah Tuwa, Allah memilih Musa dan memberinya wahyu serta mukjizat.
Musa kemudian diperintahkan menghadapi Fir'aun bersama saudaranya, Nabi Harun AS.
Ia tidak menghadapi Fir'aun dengan kekuatan politik atau pasukan.
Ia datang membawa wahyu, tauhid, dan mukjizat dari Allah.
Dan sebelum berhadapan dengan penguasa paling kuat pada zamannya, Musa berdoa:
“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku dan mudahkanlah untukku urusanku.”
(QS. Thaha: 25–26)
Dari sinilah dimulai salah satu bab terbesar dalam sejarah para Nabi.
Referensi Utama
Al-Qur'an, khususnya:
QS. Al-Qashash: 3–35
QS. Thaha: 9–48
QS. Asy-Syu'ara: 10–68
QS. Al-A'raf: 103–126
QS. Yunus: 75–92
Tafsir Ath-Thabari.
Tafsir Ibn Kathir.
Tafsir Al-Qurthubi.
Tafsir As-Sa'di.
Ibn Kathir, Qashash al-Anbiya'.
Ibn Kathir, Al-Bidayah wan Nihayah.
Komentar
Posting Komentar