SERI SEJARAH ISLAM #28 Nabi Musa AS Menghadapi Para Penyihir Fir'aun: Ketika Kebenaran Mengalahkan Tipu Daya

Pendahuluan

Pada seri sebelumnya kita telah mengikuti perjalanan Nabi Musa AS sejak kelahirannya, diselamatkan dari pembunuhan bayi oleh Fir'aun, tumbuh di lingkungan istana, meninggalkan Mesir, tinggal di Madyan, hingga akhirnya menerima wahyu dan diutus Allah bersama Nabi Harun AS untuk menghadapi Fir'aun.

Fir'aun menolak dakwah tersebut.

Ia bahkan menuduh Musa sebagai penyihir.

Untuk membuktikan tuduhannya, Fir'aun mengumpulkan para penyihir terbaik dari berbagai penjuru negeri.

Pertemuan itu kemudian menjadi salah satu peristiwa paling dramatis dalam kisah Musa AS.

Namun yang terjadi bukan sekadar pertunjukan antara dua kelompok.

Peristiwa tersebut menjadi sebab sebagian ahli sihir yang awalnya datang untuk melawan Musa justru beriman kepada Allah setelah melihat kebenaran mukjizat Musa.


1. Fir'aun Menuduh Musa sebagai Penyihir

Ketika Musa AS datang membawa mukjizat, Fir'aun dan para pembesarnya menolak kebenaran tersebut.

Para pembesar Fir'aun berkata:

“Sesungguhnya orang ini benar-benar seorang penyihir yang pandai, yang hendak mengusir kamu dari negerimu.”

(QS. Al-A'raf: 109–110)

Mereka kemudian menyarankan agar Fir'aun mengumpulkan para penyihir.

Fir'aun menyetujui usulan tersebut.

Allah berfirman:

“Tangguhkanlah dia dan saudaranya, dan kirimlah ke seluruh negeri orang-orang yang mengumpulkan.”

“Niscaya mereka akan mendatangkan kepadamu semua penyihir yang pandai.”

(QS. Al-A'raf: 111–112)


2. Para Penyihir Dikumpulkan

Para penyihir kemudian dikumpulkan untuk menghadapi Musa.

Mereka datang kepada Fir'aun dan terlebih dahulu menanyakan imbalan:

“Apakah kami benar-benar akan mendapat imbalan jika kami yang menang?”

Fir'aun menjawab bahwa mereka akan mendapatkan imbalan dan bahkan kedudukan dekat dengannya.

(QS. Al-A'raf: 113–114)

Ini menunjukkan bahwa sejak awal para penyihir tersebut datang karena mengharapkan imbalan dan kedudukan.

Namun mereka belum mengetahui bagaimana peristiwa itu akan berakhir.


3. Hari Pertandingan

Dalam Surah Thaha, Musa meminta agar pertandingan dilakukan pada suatu waktu yang diketahui banyak orang.

Allah berfirman:

“Waktu pertemuan kamu dengan mereka ialah pada hari perhiasan, dan hendaklah orang-orang dikumpulkan pada waktu pagi.”

(QS. Thaha: 59)

Dengan demikian, pertandingan tersebut berlangsung di hadapan masyarakat.

Fir'aun tidak hanya ingin mengalahkan Musa.

Ia ingin menjadikan peristiwa itu sebagai tontonan publik agar masyarakat percaya bahwa Musa hanyalah seorang penyihir.


4. Para Penyihir Memberi Kesempatan kepada Musa

Para penyihir berkata kepada Musa:

“Apakah engkau yang melemparkan lebih dahulu atau kami yang lebih dahulu melemparkan?”

(QS. Thaha: 65)

Musa menjawab:

“Kalianlah yang lebih dahulu melemparkan.”

(QS. Thaha: 66)

Musa tidak terburu-buru.

Ia membiarkan mereka menunjukkan apa yang mereka miliki.


5. Tali-Tali dan Tongkat-Tongkat Mereka

Para penyihir kemudian melemparkan tali dan tongkat mereka.

Allah berfirman:

“Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang kepada Musa seakan-akan merayap cepat karena sihir mereka.”

(QS. Thaha: 66)

Dalam Surah Al-A'raf disebutkan bahwa mereka:

“menyihir mata manusia dan menjadikan orang-orang takut.”

(QS. Al-A'raf: 116)

Ini merupakan penjelasan penting.

Al-Qur'an menggambarkan adanya tipu daya sihir yang memengaruhi pandangan manusia, bukan perubahan nyata tongkat-tongkat tersebut menjadi ular sebagaimana mukjizat Musa.


6. Musa Sempat Merasa Takut

Melihat apa yang dilakukan para penyihir, Musa merasakan ketakutan dalam dirinya.

Allah berfirman:

“Dan Musa merasa takut dalam hatinya.”

(QS. Thaha: 67)

Namun Allah segera meneguhkannya:

“Jangan takut! Sungguh, engkaulah yang unggul.”

(QS. Thaha: 68)

Kemudian Allah memerintahkan Musa:

“Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat.”

(QS. Thaha: 69)


7. Tongkat Musa Mengalahkan Tipu Daya Mereka

Musa kemudian melemparkan tongkatnya.

Allah berfirman:

“Maka tiba-tiba tongkat itu menelan segala kepalsuan yang mereka buat.”

(QS. Al-A'raf: 117)

Al-Qur'an kemudian menyatakan:

“Maka terbuktilah kebenaran dan segala yang mereka kerjakan menjadi sia-sia.”

(QS. Al-A'raf: 118)

Dan:

“Mereka dikalahkan di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.”

(QS. Al-A'raf: 119)

Peristiwa tersebut menunjukkan perbedaan antara sihir dan mukjizat.

Sihir merupakan sesuatu yang dibuat oleh manusia.

Mukjizat Musa merupakan tanda yang Allah berikan kepada Rasul-Nya.


8. Orang yang Paling Memahami Sihir Justru Mengenali Kebenaran

Para penyihir tersebut bukanlah orang awam.

Mereka adalah orang-orang yang memahami praktik sihir.

Ketika melihat apa yang dilakukan Musa, mereka segera mengetahui bahwa yang dilakukan Musa bukan sekadar trik yang mereka kuasai.

Mereka kemudian tersungkur bersujud.

Allah berfirman:

“Dan para penyihir itu serta-merta menjatuhkan diri dengan bersujud.”

(QS. Al-A'raf: 120)

Kemudian mereka berkata:

آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

“Kami beriman kepada Tuhan seluruh alam.”

(QS. Al-A'raf: 121)

Mereka bahkan memperjelas:

“Tuhannya Musa dan Harun.”

(QS. Al-A'raf: 122)


9. Fir'aun Sangat Marah

Perubahan sikap para penyihir tersebut membuat Fir'aun marah.

Mereka datang untuk mengalahkan Musa.

Namun justru mereka menjadi orang-orang yang pertama kali menyatakan keimanan setelah menyaksikan mukjizat tersebut.

Fir'aun berkata:

“Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?”

(QS. Al-A'raf: 123)

Ini menunjukkan bahwa Fir'aun menganggap keimanan rakyatnya harus berada di bawah izin dirinya.

Padahal keimanan adalah hubungan manusia dengan Allah.


10. Fir'aun Menuduh Mereka Bersekongkol

Fir'aun kemudian menuduh:

“Sesungguhnya ini benar-benar tipu muslihat yang telah kamu rencanakan di kota ini untuk mengusir penduduknya.”

(QS. Al-A'raf: 123)

Fir'aun tidak mau menerima bahwa Musa telah membawa kebenaran.

Ia justru mengubah cerita dan menuduh Musa serta para penyihir telah bersekongkol.

Ini menunjukkan bagaimana kekuasaan dapat digunakan untuk mempertahankan suatu kebohongan ketika bukti telah muncul.


11. Ancaman Mengerikan kepada Para Penyihir

Fir'aun kemudian mengancam:

“Pasti akan aku potong tangan dan kaki kamu secara bersilang, kemudian sungguh aku akan menyalib kamu semua.”

(QS. Al-A'raf: 124)

Ancaman serupa disebut dalam Surah Thaha:

“Sungguh, aku akan memotong tangan dan kakimu secara bersilang dan sungguh, aku akan menyalib kamu pada pangkal pohon kurma.”

(QS. Thaha: 71)

Mereka baru saja memperoleh kemenangan iman.

Tetapi sebagai konsekuensinya, mereka langsung menghadapi ancaman hukuman berat dari Fir'aun.


12. Jawaban Para Penyihir

Menariknya, orang-orang yang beberapa saat sebelumnya mengejar hadiah dan kedudukan kini tidak takut kepada ancaman Fir'aun.

Mereka berkata:

“Kami tidak akan mengutamakanmu daripada bukti-bukti nyata yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami.”

(QS. Thaha: 72)

Kemudian mereka berkata:

“Maka putuskanlah apa yang hendak engkau putuskan.”

(QS. Thaha: 72)

Mereka telah menyadari bahwa kekuasaan Fir'aun terbatas.

Sedangkan Allah adalah Tuhan seluruh alam.


13. Mereka Memohon Ampunan kepada Allah

Para penyihir berkata:

“Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah engkau paksakan kepada kami.”

(QS. Thaha: 73)

Mereka tidak mempertahankan masa lalu mereka.

Mereka mengakui kesalahan dan segera kembali kepada Allah.


14. Mereka Memilih Allah daripada Fir'aun

Kemudian mereka berkata:

“Dan Allah lebih baik dan lebih kekal.”

(QS. Thaha: 73)

Inilah perubahan besar dalam diri mereka.

Sebelumnya mereka mengejar:

hadiah + kedudukan + kedekatan dengan Fir'aun.

Setelah mengetahui kebenaran, mereka memilih:

iman + ampunan Allah + akhirat.


15. Doa Para Penyihir

Dalam Surah Al-A'raf, mereka berdoa:

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan Muslim.”

(QS. Al-A'raf: 126)

Doa ini sangat singkat tetapi luar biasa.

Mereka tidak meminta kekayaan.

Mereka tidak meminta Fir'aun berubah.

Mereka meminta:

kesabaran dan kematian dalam keadaan berserah diri kepada Allah.


16. Apakah Para Penyihir Benar-Benar Dibunuh?

Al-Qur'an menyebut ancaman Fir'aun terhadap mereka.

Fir'aun mengancam akan:

  • memotong tangan dan kaki secara bersilang,

  • kemudian menyalib mereka.

Namun ayat tersebut tidak secara eksplisit menyatakan bahwa seluruh ancaman itu benar-benar dilaksanakan.

Karena itu, kita tidak boleh mengatakan sebagai fakta pasti:

“Semua penyihir tersebut pasti dieksekusi.”

Yang dapat kita katakan dengan pasti adalah:

Fir'aun mengancam mereka dengan hukuman yang sangat berat karena mereka beriman kepada Allah.


17. Berapa Jumlah Penyihir Fir'aun?

Al-Qur'an tidak menyebut jumlah pasti para penyihir yang dikumpulkan Fir'aun.

Dalam berbagai kisah dan literatur sejarah terdapat angka-angka tertentu.

Namun karena angka tersebut tidak ditegaskan oleh Al-Qur'an atau hadis sahih yang menjadi dasar artikel ini, kita tidak akan menjadikannya sebagai fakta.

Prinsip seri ini:

Jika Al-Qur'an tidak menyebut jumlahnya, kita tidak perlu mengarang atau memastikan jumlahnya.


18. Siapa Nama Para Penyihir Itu?

Al-Qur'an juga tidak menyebut nama pribadi para penyihir.

Berbagai kitab tafsir dan kisah Nabi menyebut nama-nama tertentu.

Namun nama-nama tersebut berasal dari riwayat tambahan.

Karena itu, artikel sejarah yang ingin menjaga ketelitian sebaiknya cukup menyebut:

“Para penyihir Fir'aun.”


19. Mengapa Para Penyihir Cepat Beriman?

Ini salah satu pelajaran paling menarik dari kisah tersebut.

Mereka adalah orang-orang yang memahami sihir.

Ketika melihat apa yang dilakukan Musa, mereka dapat membedakan antara:

tipu daya manusia

dan

mukjizat dari Allah.

Karena itu, mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk mengambil keputusan.

Mereka langsung bersujud dan menyatakan:

“Kami beriman kepada Tuhan seluruh alam.”

(QS. Al-A'raf: 121)


20. Fir'aun Memiliki Kekuasaan, Tetapi Tidak Memiliki Hidayah

Fir'aun menyaksikan peristiwa tersebut.

Ia melihat para penyihir yang sebelumnya berada di pihaknya berubah menjadi orang beriman.

Namun ia tetap menolak.

Ini menunjukkan bahwa:

Banyaknya bukti tidak otomatis membuat seseorang menerima kebenaran.

Manusia membutuhkan hati yang mau tunduk kepada kebenaran.


21. Mukjizat Musa Bukan Sekadar “Pertunjukan”

Peristiwa tongkat Musa sering hanya dipahami sebagai cerita tentang tongkat yang berubah menjadi ular.

Padahal konteksnya jauh lebih besar.

Allah sedang memperlihatkan bahwa:

kebenaran tidak dapat dikalahkan oleh tipu daya manusia.

Fir'aun menggunakan:

  • kekuasaan,

  • propaganda,

  • ahli sihir,

  • ancaman,

  • dan tekanan sosial.

Tetapi semuanya tidak mampu mengalahkan apa yang Allah kehendaki.


22. Kemenangan Pertama Musa

Secara fisik, Musa belum menggulingkan pemerintahan Fir'aun.

Bani Israil juga belum bebas.

Fir'aun masih berkuasa.

Namun terjadi kemenangan yang sangat penting:

Para penyihir yang awalnya menjadi alat Fir'aun berubah menjadi saksi kebenaran Musa.

Mereka bahkan bersedia menghadapi ancaman Fir'aun demi mempertahankan iman.

Ini merupakan kemenangan moral dan keimanan yang sangat besar.


23. Pelajaran dari Para Penyihir Fir'aun

1. Kebenaran harus diterima meskipun datang dari orang yang sebelumnya kita lawan

Para penyihir datang untuk mengalahkan Musa.

Namun ketika mengetahui kebenaran, mereka menerimanya.

2. Jangan mempertahankan kesalahan hanya karena sudah terlanjur berada di dalamnya

Mereka sebelumnya bekerja untuk Fir'aun.

Tetapi mereka tidak membiarkan masa lalu menghalangi mereka untuk beriman.

3. Hidayah dapat datang sangat cepat

Dalam waktu singkat, orang yang sebelumnya mengejar hadiah dari Fir'aun menjadi orang yang siap menghadapi ancamannya.

4. Kekuasaan manusia memiliki batas

Fir'aun dapat mengancam tubuh mereka.

Tetapi ia tidak dapat menguasai iman mereka.

5. Keberanian terbesar adalah mempertahankan kebenaran

Mereka mengetahui risiko yang akan dihadapi.

Namun mereka tetap berkata:

“Maka putuskanlah apa yang hendak engkau putuskan.”

(QS. Thaha: 72)

6. Taubat dapat mengubah seseorang

Mereka datang sebagai penyihir.

Mereka keluar dari arena sebagai orang-orang yang beriman kepada Allah.


24. Fakta Al-Qur'an dan Riwayat Tambahan

InformasiStatus
Fir'aun mengumpulkan para penyihir untuk menghadapi MusaPasti – Al-Qur'an
Pertandingan disaksikan masyarakatPasti – Al-Qur'an
Para penyihir melempar tali dan tongkatPasti – Al-Qur'an
Mereka membuat manusia terpengaruh oleh sihirnyaPasti – Al-Qur'an
Musa melemparkan tongkatnyaPasti – Al-Qur'an
Tongkat Musa menelan apa yang mereka buatPasti – Al-Qur'an
Para penyihir langsung bersujudPasti – Al-Qur'an
Mereka beriman kepada Tuhan Musa dan HarunPasti – Al-Qur'an
Fir'aun mengancam merekaPasti – Al-Qur'an
Mereka meminta kesabaran dan wafat sebagai MuslimPasti – Al-Qur'an
Jumlah pasti para penyihirTidak disebut Al-Qur'an
Nama pribadi para penyihirTidak disebut Al-Qur'an
Mereka pasti semuanya dibunuh Fir'aunTidak ditegaskan Al-Qur'an
Nama-nama tertentu yang dinisbatkan kepada para penyihirRiwayat tambahan; perlu verifikasi

25. Hubungan dengan Hadis Nabi ﷺ

Kisah Musa AS juga memiliki kedudukan penting dalam hadis.

Rasulullah ﷺ menyebut bahwa Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan kaum Fir'aun. Dalam hadis sahih, Nabi ﷺ juga mengaitkan peristiwa keselamatan Musa dengan hari 'Asyura, ketika beliau mengetahui kaum Yahudi berpuasa sebagai bentuk syukur atas keselamatan Musa. Nabi ﷺ kemudian bersabda bahwa kaum Muslimin lebih dekat kepada Musa dan memerintahkan puasa pada hari tersebut.

(HR. Bukhari no. 3397; Bukhari no. 4737)

Peristiwa tersebut terjadi jauh setelah pertandingan Musa dengan para penyihir, sehingga kisah dalam seri berikutnya akan bergerak dari kemenangan Musa atas para penyihir menuju semakin kerasnya penolakan Fir'aun.


26. Apa yang Terjadi Setelah Para Penyihir Beriman?

Fir'aun tidak menyerah.

Sebaliknya, penolakannya semakin keras.

Setelah menyaksikan berbagai tanda dari Allah, Fir'aun dan para pembesarnya tetap mempertahankan kesombongan.

Kisah kemudian bergerak menuju:

penindasan yang semakin keras terhadap Bani Israil → berbagai tanda dan azab → Musa dan Bani Israil diperintahkan meninggalkan Mesir → pengejaran Fir'aun → terbelahnya laut → keselamatan Bani Israil → tenggelamnya Fir'aun dan tentaranya.

Rangkaian inilah yang akan menjadi inti seri berikutnya.


Kesimpulan

Pertemuan Musa AS dengan para penyihir Fir'aun merupakan salah satu bukti paling kuat dalam Al-Qur'an tentang perbedaan antara mukjizat dan sihir.

Para penyihir datang dengan keyakinan bahwa mereka akan mendapatkan hadiah dan kedudukan.

Namun setelah menyaksikan mukjizat Musa, mereka justru menjadi orang-orang yang beriman.

Fir'aun kemudian mengancam mereka.

Tetapi mereka menjawab dengan keteguhan:

“Kami tidak akan mengutamakanmu daripada bukti-bukti nyata yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami.”

(QS. Thaha: 72)

Kemudian mereka berdoa:

“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan Muslim.”

(QS. Al-A'raf: 126)

Kisah ini mengajarkan bahwa seseorang tidak dinilai hanya dari masa lalunya.

Para penyihir datang sebagai orang yang berada di pihak Fir'aun.

Tetapi ketika kebenaran menjadi jelas, mereka berani meninggalkan keuntungan dunia dan memilih iman.

Kebenaran yang telah diketahui menuntut keberanian untuk mengikutinya.


Referensi Utama

  1. Al-Qur'an

    • QS. Al-A'raf: 103–126

    • QS. Yunus: 75–82

    • QS. Thaha: 56–73

    • QS. Asy-Syu'ara: 30–51

  2. Sahih al-Bukhari no. 3397 – tentang keselamatan Musa dan Bani Israil dari Fir'aun.

  3. Sahih al-Bukhari no. 4737 – tentang peristiwa Musa dan puasa 'Asyura.

  4. Tafsir Ath-Thabari.

  5. Tafsir Ibn Kathir.

  6. Tafsir Al-Qurthubi.

  7. Tafsir As-Sa'di.

  8. Ibn Kathir, Qashash al-Anbiya'.


Komentar