SERI SEJARAH ISLAM #24 Nabi Yusuf AS: Dari Sumur, Perbudakan, Penjara, hingga Menjadi Penguasa Mesir
Pendahuluan
Kisah Nabi Yusuf AS merupakan salah satu kisah paling lengkap yang disampaikan Al-Qur'an. Berbeda dengan banyak kisah Nabi lainnya yang tersebar dalam beberapa surah, kisah Yusuf AS terutama disampaikan secara berurutan dalam Surah Yusuf, dari masa kanak-kanak hingga beliau memperoleh kedudukan di Mesir dan kembali bertemu dengan keluarganya.
Allah berfirman:
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ
“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik...”
(QS. Yusuf: 3)
Karena itu, kisah Yusuf AS bukan sekadar cerita tentang penderitaan dan kesuksesan. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang tauhid, kesabaran, menjaga kehormatan, menghadapi fitnah, memaafkan, serta keyakinan bahwa Allah dapat mengubah keadaan seseorang dengan cara yang tidak disangka-sangka.
1. Siapakah Nabi Yusuf AS?
Yusuf AS adalah putra Nabi Ya‘qub AS, cucu Nabi Ishaq AS, dan cicit Nabi Ibrahim AS.
Rasulullah ﷺ menyebut keutamaan silsilah Yusuf AS:
“Yusuf, Nabi Allah, putra Nabi Allah, putra Nabi Allah, putra kekasih Allah.”
(HR. Muslim no. 2378) (Sunnah)
Dengan demikian, Yusuf AS merupakan bagian dari keluarga kenabian yang sangat mulia:
Ibrahim AS → Ishaq AS → Ya‘qub AS → Yusuf AS
Al-Qur'an juga menegaskan bahwa Allah telah memilih Yusuf dan mengajarinya takwil mimpi. (QS. Yusuf: 6) (Quran.com)
2. Mimpi Yusuf AS
Ketika masih muda, Yusuf AS mendapatkan sebuah mimpi yang luar biasa.
Ia berkata kepada ayahnya:
“Wahai ayahku! Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya bersujud kepadaku.”
(QS. Yusuf: 4) (Quran.com)
Ya‘qub AS memahami bahwa mimpi tersebut memiliki makna besar.
Ia kemudian berpesan kepada Yusuf agar tidak menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya karena khawatir mereka akan melakukan tipu daya.
Allah berfirman:
“Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, nanti mereka akan membuat tipu daya terhadapmu.”
(QS. Yusuf: 5)
Ayat berikutnya menjelaskan bahwa Allah akan memilih Yusuf, mengajarinya takwil mimpi, dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadanya. (QS. Yusuf: 6) (Quran.com)
Catatan penting
Al-Qur'an tidak menyebut secara eksplisit siapa yang dimaksud dengan matahari dan bulan dalam mimpi tersebut.
Tafsir klasik umumnya memahami sebelas bintang sebagai saudara-saudara Yusuf, sedangkan matahari dan bulan berkaitan dengan orang tua Yusuf. Namun rincian identitas tersebut harus dipahami sebagai penafsiran ulama, bukan seluruhnya sebagai teks eksplisit Al-Qur'an.
3. Kecemburuan Saudara-Saudara Yusuf
Saudara-saudara Yusuf merasa bahwa ayah mereka lebih mencintai Yusuf dan saudaranya yang disebut dalam kisah tersebut.
Mereka berkata:
“Sungguh, Yusuf dan saudaranya lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita, padahal kita adalah satu golongan yang kuat.”
(QS. Yusuf: 8)
Perasaan iri itu kemudian berkembang menjadi rencana buruk.
Sebagian dari mereka mengusulkan agar Yusuf dibunuh.
Namun salah seorang di antara mereka berkata agar Yusuf tidak dibunuh, melainkan dimasukkan ke dalam sumur sehingga ditemukan oleh musafir.
(QS. Yusuf: 9–10)
Mereka kemudian meminta izin kepada Ya‘qub agar Yusuf ikut bersama mereka.
Ya‘qub sebenarnya merasa khawatir.
Namun akhirnya Yusuf dibawa pergi.
4. Yusuf Dibuang ke Dalam Sumur
Ketika mereka telah membawa Yusuf pergi, mereka melaksanakan rencana tersebut.
Yusuf dimasukkan ke dalam sumur.
Kemudian mereka pulang dengan membawa baju Yusuf yang dilumuri darah palsu.
Mereka mengatakan kepada ayahnya bahwa Yusuf telah dimakan serigala.
Tetapi Ya‘qub tidak begitu saja mempercayai cerita tersebut.
Ia berkata:
“Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan yang buruk itu; maka kesabaran yang baik itulah sikapku.”
(QS. Yusuf: 18)
Di sinilah muncul salah satu tema penting dalam kisah Yusuf:
صَبْرٌ جَمِيلٌ — sabar yang indah
Ya‘qub tidak menyangkal kesedihannya.
Namun ia memilih bersabar dan menyerahkan urusannya kepada Allah.
5. Yusuf Ditemukan oleh Musafir
Allah kemudian menyelamatkan Yusuf.
Sekelompok musafir datang dan mengutus orang yang mengambil air.
Ketika menurunkan timbanya, orang itu menemukan Yusuf.
“Oh, kabar gembira! Ini seorang anak muda!”
(QS. Yusuf: 19)
Yusuf kemudian dibawa dan dijual sebagai barang dagangan dengan harga yang rendah.
Allah berfirman:
“Dan mereka menjualnya dengan harga yang murah, beberapa dirham saja, karena mereka tidak tertarik kepadanya.”
(QS. Yusuf: 20)
Dengan demikian, Yusuf berpindah dari:
anak yang disayangi → dibuang ke sumur → ditemukan musafir → dijual sebagai budak.
Namun sebenarnya, semua itu merupakan bagian dari perjalanan yang telah Allah atur.
6. Yusuf Tinggal di Rumah Pembesar Mesir
Orang Mesir yang membeli Yusuf berkata kepada istrinya agar memperlakukannya dengan baik.
Allah berfirman:
“Muliakanlah tempat tinggalnya, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita angkat dia sebagai anak.”
(QS. Yusuf: 21)
Allah kemudian memberikan Yusuf kedudukan dan mengajarinya takwil mimpi.
Al-Qur'an menyebut:
“Dan ketika dia telah cukup dewasa, Kami berikan kepadanya kekuasaan dan ilmu.”
(QS. Yusuf: 22)
7. Yusuf AS Menghadapi Godaan
Ketika Yusuf telah dewasa, ia menghadapi ujian yang sangat berat.
Istri pembesar tersebut berusaha menggoda Yusuf.
Namun Yusuf menolak.
Ia berkata:
“Aku berlindung kepada Allah.”
(QS. Yusuf: 23)
Yusuf memilih menjaga kehormatan dirinya meskipun ia berada dalam posisi yang sulit.
Allah kemudian menyelamatkannya dari perbuatan keji.
Pelajaran besar
Yusuf tidak hanya diuji ketika berada dalam kesulitan.
Ia juga diuji ketika memiliki kesempatan untuk melakukan maksiat.
Dan justru ketika tidak ada manusia yang dapat mengawasinya, Yusuf memilih takut kepada Allah.
8. Yusuf Memilih Penjara daripada Maksiat
Fitnah kemudian berkembang.
Para perempuan di kota membicarakan peristiwa tersebut.
Yusuf akhirnya menghadapi tekanan yang berat.
Ia berdoa:
“Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.”
(QS. Yusuf: 33)
Allah mengabulkan permohonannya.
Yusuf kemudian dipenjara.
Secara manusiawi, penjara terlihat seperti kehancuran.
Namun justru di dalam penjara itulah Allah membuka jalan menuju tahap berikutnya dalam kehidupan Yusuf.
9. Dakwah Yusuf di Dalam Penjara
Di dalam penjara, Yusuf tidak berhenti berdakwah.
Dua orang pemuda meminta Yusuf menafsirkan mimpi mereka.
Sebelum menafsirkan mimpi, Yusuf terlebih dahulu menjelaskan tentang tauhid.
Ia berkata:
“Apakah tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu lebih baik ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa?”
(QS. Yusuf: 39)
Yusuf kemudian menjelaskan bahwa hukum dan keputusan hanyalah milik Allah.
Ini menunjukkan bahwa:
Nabi Yusuf AS tetap menjadi seorang da'i bahkan ketika sedang menjadi tahanan.
Kesulitan tidak menghilangkan tugasnya untuk mengajak manusia kepada tauhid.
10. Yusuf Menafsirkan Mimpi Raja
Beberapa tahun kemudian, raja Mesir bermimpi.
Ia melihat:
tujuh ekor sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus,
tujuh bulir gandum hijau,
dan tujuh bulir lainnya yang kering.
Tidak ada orang di istana yang mampu memberikan penjelasan yang memuaskan.
Kemudian orang yang pernah dipenjara bersama Yusuf teringat kepada Yusuf.
Ia datang kepada Yusuf dan meminta penjelasan.
Yusuf menjelaskan bahwa Mesir akan mengalami:
tujuh tahun masa subur → tujuh tahun masa paceklik → kemudian datang masa setelahnya ketika manusia memperoleh hujan dan kembali dapat memeras hasil tanaman.
(QS. Yusuf: 43–49)
Yusuf bukan hanya menafsirkan mimpi.
Ia juga memberikan solusi ekonomi dan pangan untuk menghadapi krisis.
11. Yusuf Tidak Langsung Keluar dari Penjara
Ketika raja memerintahkan agar Yusuf dikeluarkan dari penjara, Yusuf tidak langsung keluar.
Ia meminta agar kasus yang menyebabkan dirinya dipenjara terlebih dahulu diperiksa.
(QS. Yusuf: 50)
Para perempuan yang dahulu terlibat dalam peristiwa tersebut akhirnya memberikan kesaksian tentang kebenaran Yusuf.
Istri pembesar itu juga mengakui bahwa Yusuf tidak bersalah.
(QS. Yusuf: 51)
Ini merupakan bagian penting dari karakter Yusuf:
Ia tidak hanya ingin bebas; ia ingin nama baik dan kebenarannya diketahui.
12. Yusuf Menjadi Pengelola Perbendaharaan Mesir
Setelah terbukti tidak bersalah, Yusuf mendapatkan kedudukan.
Ia berkata:
“Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”
(QS. Yusuf: 55)
Allah kemudian memberikan Yusuf kekuasaan di negeri tersebut.
(QS. Yusuf: 56)
Yusuf mengelola persediaan pangan menghadapi masa paceklik.
Di sinilah perjalanan Yusuf berubah secara luar biasa:
dari seorang anak yang dibuang ke sumur → menjadi budak → dipenjara → kemudian menjadi pejabat yang mengelola perbendaharaan Mesir.
13. Saudara-Saudara Yusuf Datang ke Mesir
Ketika masa paceklik terjadi, saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir untuk mendapatkan bahan makanan.
Yusuf mengenali mereka.
Namun mereka tidak mengenali Yusuf.
(QS. Yusuf: 58)
Ini menjadi awal dari pertemuan kembali Yusuf dengan keluarganya.
Yusuf meminta mereka membawa saudara mereka yang lain pada kedatangan berikutnya.
Dalam kisah Al-Qur'an, saudara tersebut dikenal sebagai Bunyamin dalam penamaan tafsir dan riwayat, tetapi nama tersebut tidak disebut secara eksplisit dalam ayat-ayat Surah Yusuf.
14. Peristiwa Piala Raja
Pada kedatangan berikutnya, Yusuf menyusun suatu cara agar saudaranya tetap berada di Mesir.
Piala raja ditemukan dalam barang bawaan saudaranya.
Menurut hukum yang diterapkan dalam kisah tersebut, orang yang ditemukan membawa barang itu ditahan.
(QS. Yusuf: 70–79)
Saudara-saudara Yusuf kemudian mengalami kesedihan dan kebingungan.
Mereka tidak menyadari bahwa orang yang sedang mereka hadapi adalah Yusuf.
15. Rahasia Yusuf Akhirnya Terungkap
Ketika saudara-saudaranya kembali dan mengalami tekanan batin yang berat, Yusuf akhirnya memperkenalkan dirinya.
Ia berkata:
“Akulah Yusuf dan ini saudaraku.”
(QS. Yusuf: 90)
Saudara-saudaranya terkejut.
Mereka menyadari bahwa orang yang dahulu mereka buang ke dalam sumur kini telah menjadi orang yang berada di hadapan mereka dalam kedudukan yang tinggi.
16. Yusuf Memilih Memaafkan
Inilah salah satu puncak akhlak Yusuf AS.
Ia tidak membalas dendam.
Ia berkata:
“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu.”
(QS. Yusuf: 92)
Kemudian Yusuf menjelaskan bahwa Allah telah memberikan kedudukan kepadanya dan bahwa orang yang bertakwa serta bersabar tidak akan disia-siakan pahalanya.
(QS. Yusuf: 90
Yusuf mempunyai kesempatan untuk membalas.
Tetapi ia memilih memaafkan.
17. Ya‘qub AS Kembali Mendapatkan Penglihatannya
Yusuf meminta saudara-saudaranya membawa bajunya dan meletakkannya pada wajah ayahnya.
Ketika mereka melakukannya, penglihatan Ya‘qub kembali.
(QS. Yusuf: 93–96)
Kemudian keluarga Ya‘qub datang ke Mesir.
Yusuf menyambut kedua orang tuanya dan keluarganya.
18. Mimpi Yusuf Menjadi Kenyataan
Ketika keluarganya berkumpul, Yusuf menaikkan kedua orang tuanya ke tempat yang tinggi dan mereka bersujud kepadanya.
Yusuf berkata:
“Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Sungguh, Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan.”
(QS. Yusuf: 100) (Quran.com)
Dalam konteks Al-Qur'an, sujud tersebut merupakan bentuk penghormatan dalam syariat masa itu, bukan penyembahan kepada Yusuf.
Yang menarik, Yusuf tidak menjadikan keberhasilannya sebagai alasan untuk menyombongkan diri.
Ia justru menisbatkan semua nikmat kepada Allah.
19. Doa Yusuf AS di Akhir Kisah
Setelah Allah memberikan kepadanya kekuasaan, ilmu, keluarga dan keselamatan, Yusuf berdoa:
رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ...
“Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi... wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.”
(QS. Yusuf: 101) (Quran.com)
Perhatikan bagaimana Yusuf menutup perjalanan hidupnya.
Bukan dengan meminta kekuasaan lebih besar.
Bukan dengan meminta kekayaan.
Tetapi dengan memohon:
“Wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim.”
Inilah puncak kisah Yusuf AS.
20. Apa yang Pasti dan Apa yang Tidak Pasti?
Dalam menulis sejarah Nabi Yusuf AS, kita harus membedakan antara Al-Qur'an dan riwayat tambahan.
Yang pasti berdasarkan Al-Qur'an:
Yusuf adalah Nabi Allah.
Yusuf adalah putra Ya‘qub AS.
Yusuf mendapatkan mimpi ketika masih muda.
Saudara-saudaranya memasukkannya ke dalam sumur.
Yusuf ditemukan oleh musafir.
Yusuf dijual di Mesir.
Yusuf menghadapi godaan dan fitnah.
Yusuf masuk penjara.
Yusuf menafsirkan mimpi.
Yusuf memperoleh kedudukan di Mesir.
Terjadi masa subur dan paceklik.
Saudara-saudaranya datang ke Mesir.
Yusuf akhirnya memperkenalkan dirinya.
Yusuf memaafkan saudara-saudaranya.
Ya‘qub dan keluarganya datang ke Mesir.
Mimpi Yusuf menjadi kenyataan.
Yusuf berdoa agar diwafatkan dalam keadaan Muslim.
Yang perlu diberi tanda sebagai riwayat tambahan:
Berbagai kitab tafsir dan kisah Nabi menyebut rincian seperti:
nama istri pembesar Mesir,
nama raja Mesir,
nama lengkap sebagian tokoh,
rincian usia Yusuf,
bentuk sumur,
lokasi sumur,
berbagai dialog yang tidak terdapat dalam Al-Qur'an.
Rincian semacam itu tidak boleh ditulis sebagai fakta pasti apabila tidak memiliki dasar yang kuat.
21. Apakah Raja Mesir Itu Fir'aun?
Ini juga perlu diperhatikan.
Dalam kisah Yusuf AS, Al-Qur'an menggunakan istilah al-Malik (الملك), yaitu raja, bukan Fir'aun.
Berbeda dengan kisah Nabi Musa AS yang secara jelas menggunakan istilah Fir'aun.
Karena itu, dalam seri ini kita sebaiknya tidak mengatakan:
“Yusuf bekerja untuk Fir'aun.”
Yang lebih aman dan sesuai Al-Qur'an:
“Yusuf berada di bawah pemerintahan raja Mesir.”
22. Pelajaran Terbesar dari Nabi Yusuf AS
1. Ujian tidak berarti Allah meninggalkan kita
Yusuf mengalami sumur, perbudakan, fitnah dan penjara.
Namun setiap tahap justru membawanya menuju kedudukan yang Allah tetapkan.
2. Menjaga kehormatan lebih berharga daripada kebebasan sementara
Yusuf memilih penjara daripada melakukan perbuatan yang Allah haramkan.
3. Kesabaran harus disertai tawakal
Ya‘qub kehilangan Yusuf dalam waktu yang panjang.
Namun ia tetap berharap kepada Allah.
4. Ilmu harus digunakan untuk kemaslahatan
Yusuf tidak hanya memiliki ilmu menakwil mimpi.
Ia menggunakan kemampuannya untuk membantu masyarakat menghadapi krisis pangan.
5. Kekuasaan adalah amanah
Ketika memperoleh kekuasaan, Yusuf tidak menggunakannya untuk membalas dendam kepada saudara-saudaranya.
6. Memaafkan ketika memiliki kekuasaan adalah akhlak yang tinggi
Yusuf memiliki kesempatan untuk membalas semua kejahatan saudaranya.
Namun ia memilih memaafkan.
7. Jangan menilai perjalanan hidup hanya dari satu fase
Jika kisah Yusuf berhenti di sumur, kita mungkin mengira hidupnya telah berakhir.
Jika berhenti di penjara, kita mungkin mengira ia telah gagal.
Tetapi Allah menunjukkan bahwa perjalanan seseorang belum selesai hanya karena sedang berada di titik terendah.
23. Kesimpulan
Kisah Nabi Yusuf AS adalah perjalanan panjang dari ujian menuju pertolongan Allah.
Ia pernah menjadi anak yang dicemburui saudaranya.
Ia pernah dibuang ke sumur.
Ia pernah dijual sebagai budak.
Ia pernah difitnah.
Ia pernah dipenjara.
Namun Yusuf tidak kehilangan iman dan kehormatannya.
Pada akhirnya Allah mengangkat kedudukannya, mempertemukannya kembali dengan keluarganya, dan memperlihatkan bahwa mimpi yang dahulu dianggap sebagai sesuatu yang belum dipahami ternyata memiliki akhir yang benar.
Tetapi puncak kisah Yusuf bukanlah ketika ia menjadi penguasa.
Puncaknya adalah ketika ia berkata:
“Wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.”
(QS. Yusuf: 101) (Quran.com)
Kisah Yusuf mengajarkan bahwa keberhasilan terbesar seorang manusia bukanlah seberapa tinggi kedudukannya di dunia, melainkan bagaimana ia tetap beriman kepada Allah sampai akhir kehidupannya.
Referensi Utama
Al-Qur'an, terutama Surah Yusuf ayat 1–111.
Sahih Muslim no. 2378, tentang keutamaan Nabi Yusuf AS dan silsilah kenabiannya. (Sunnah)
Tafsir Ibn Kathir.
Tafsir Ath-Thabari.
Tafsir Al-Qurthubi.
Tafsir As-Sa'di.
Ibn Kathir, Qashash al-Anbiya'.
Ibn Kathir, Al-Bidayah wan Nihayah — dengan kehati-hatian terhadap riwayat sejarah yang tidak memiliki sanad kuat.
Catatan Seri
Seri berikutnya: Nabi Musa AS dan perjalanan Bani Israil menuju Mesir hingga menghadapi Fir'aun.
Namun sebelum melanjutkan terlalu jauh, master timeline seri perlu kita gunakan sebagai pengaman agar Nabi yang sebelumnya terlewat—terutama Nabi Nuh AS, Hud AS, dan Salih AS—tidak hilang dari seri.
Artikel #24 Nabi Yusuf AS ini sengaja saya buat dengan sumber utama Surah Yusuf dan tidak memasukkan nama-nama tokoh atau detail populer yang tidak memiliki dasar kuat sebagai fakta. Rasulullah ﷺ sendiri menyebut Yusuf sebagai Nabi Allah, putra Nabi Allah, putra Nabi Allah, putra Khalilullah dalam Sahih Muslim. (Sunnah)
Untuk thumbnail #24, saya sarankan tidak menggambarkan wajah Yusuf AS sama sekali. Saya bisa membuatnya sekarang dengan gaya (1) sinematik historis, (2) infografis dokumenter, atau (3) elegan klasik Islami—mana yang Anda pilih?
Komentar
Posting Komentar