Pernahkah Kamu Menyadari Betapa Hebatnya Cara Pikiran Kita Bekerja?
"Semua tindakan besar ternyata selalu dimulai dari sebuah pikiran kecil."
Pernahkah kamu benar-benar memperhatikan proses sederhana ketika membuka sebuah pintu?
Kelihatannya sepele.
Kita berjalan, memutar gagang pintu, lalu membukanya.
Selesai.
Namun, jika diamati lebih dalam, ternyata ada proses yang luar biasa rumit yang terjadi hanya dalam hitungan detik.
Dan hebatnya, hampir semuanya berlangsung tanpa kita sadari.
Membuka Pintu Ternyata Tidak Sesederhana yang Kita Bayangkan
Bayangkan kamu sedang berada di dalam kamar.
Kemudian kamu memutuskan untuk keluar.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Sebelum tangan menyentuh gagang pintu, pikiranmu terlebih dahulu membuat sebuah keputusan.
"Aku ingin keluar."
Setelah keputusan itu muncul, otak mulai mengirimkan berbagai instruksi.
Pertama, kaki diminta berjalan menuju pintu.
Lalu mata memperhatikan posisi pintu.
Kemudian mata mengamati apakah pintu sedang tertutup rapat, terkunci, atau hanya tertutup biasa.
Barulah setelah semua informasi diterima, tangan menggunakan tenaga secukupnya untuk memutar gagang dan membuka pintu.
Semua proses tersebut berlangsung begitu cepat.
Bahkan sering kali hanya dalam beberapa detik.
Semua Berawal dari Sebuah Tujuan
Hal yang lebih menarik adalah...
Sebelum semua proses tadi terjadi, sebenarnya kita sudah memiliki tujuan.
Kita sudah tahu mengapa pintu itu harus dibuka.
Mungkin ingin keluar rumah.
Mengambil minum.
Menyapa seseorang.
Atau sekadar menuju ruang lain.
Karena itu, akan terasa aneh jika seseorang membuka pintu tetapi sama sekali tidak tahu ingin melakukan apa.
Bayangkan...
Kamu membuka pintu.
Diam beberapa saat.
Lalu masuk kembali ke kamar.
Kemudian kembali berbaring.
Kalau dipikir-pikir, lucu juga.
Walaupun... sepertinya hampir semua orang pernah mengalaminya setidaknya sekali seumur hidup.
Mungkin karena lupa.
Atau... istilah anak sekarang, gabut.
Pikiran Kita Bekerja Sangat Sistematis
Semakin dipikirkan, semakin kita menyadari bahwa pikiran manusia bekerja dengan sangat rapi.
Sebelum anggota tubuh bergerak, pikiran lebih dulu menyusun urutan tindakan.
Mana yang harus dilakukan terlebih dahulu.
Mana yang dilakukan setelahnya.
Mana yang perlu diperhatikan.
Mana yang bisa diabaikan.
Hebatnya lagi, semua proses itu berlangsung hampir tanpa kita sadari.
Kita tidak perlu menghitung langkah.
Tidak perlu menghitung tenaga yang digunakan.
Tidak perlu berpikir berapa derajat tangan harus diputar.
Semuanya berjalan secara otomatis.
Menulis Pun Diawali dari Pikiran
Hal yang sama juga terjadi ketika kita menulis.
Sebelum satu huruf pun muncul di layar atau di atas kertas, pikiran telah bekerja lebih dahulu.
Ia memilih kata.
Menyusun kalimat.
Menentukan urutan ide.
Bahkan mempertimbangkan apakah kata yang dipilih sudah cukup tepat atau belum.
Mungkin ada puluhan.
Ratusan.
Bahkan ribuan pilihan kata yang melintas di kepala.
Namun hanya satu yang akhirnya dipilih untuk dituliskan.
Begitulah cara pikiran bekerja.
Mengapa Menulis Terasa Sulit di Awal?
Banyak orang berkata,
"Saya tidak bisa menulis."
Padahal sering kali masalahnya bukan tidak bisa.
Melainkan belum terbiasa.
Semua keterampilan memang terasa berat ketika baru dimulai.
Namun setelah dilakukan berulang-ulang, perlahan semuanya berubah menjadi kebiasaan.
Menulis yang awalnya terasa melelahkan...
Lama-kelamaan justru menjadi kegiatan yang dirindukan.
Ide datang lebih cepat.
Kalimat mengalir lebih mudah.
Tulisan selesai tanpa terasa.
Bukan karena kita menjadi lebih pintar dalam semalam.
Tetapi karena otak sudah membentuk pola baru melalui latihan yang terus-menerus.
Inilah Hebatnya Kebiasaan
Beberapa waktu lalu saya pernah menulis tentang kebiasaan (habit).
Semakin sering sesuatu dilakukan, semakin ringan pekerjaan tersebut terasa.
Hal yang awalnya membutuhkan usaha besar perlahan berubah menjadi aktivitas yang dilakukan hampir tanpa berpikir.
Begitulah cara Allah menciptakan manusia.
Tubuh belajar.
Pikiran belajar.
Lalu semuanya bekerja sama agar hidup menjadi lebih efisien.
Akal Adalah Karunia yang Sangat Besar
Di antara sekian banyak nikmat yang Allah SWT berikan kepada manusia, salah satu yang paling luar biasa adalah akal.
Dengan akal, manusia mampu berpikir.
Membedakan yang benar dan yang salah.
Merencanakan masa depan.
Belajar dari masa lalu.
Menciptakan berbagai penemuan.
Membangun peradaban.
Karena itulah, Al-Qur'an berkali-kali mengajak manusia untuk menggunakan akalnya.
Allah SWT berulang kali mengingatkan manusia dengan pertanyaan-pertanyaan seperti:
"Tidakkah kamu berpikir?"
"Tidakkah kamu mengambil pelajaran?"
"Tidakkah kamu menggunakan akal?"
Ajakan tersebut menunjukkan betapa pentingnya berpikir sebagai bagian dari kehidupan seorang manusia.
Gunakan Pikiran Sebelum Bertindak
Setiap keputusan yang kita ambil hari ini akan menjadi kebiasaan di masa depan.
Setiap kebiasaan akan membentuk karakter.
Dan karakter akan menentukan arah kehidupan kita.
Karena itu, jangan hanya membiasakan diri untuk bertindak.
Biasakan juga diri untuk berpikir sebelum bertindak.
Sebab sering kali, kualitas hidup seseorang tidak ditentukan oleh seberapa kuat fisiknya, melainkan oleh seberapa baik ia menggunakan akal yang telah Allah anugerahkan.
Penutup
Semakin kita menyadari cara kerja pikiran, semakin kita memahami bahwa tidak ada tindakan yang benar-benar terjadi secara kebetulan.
Semuanya berawal dari sebuah keputusan.
Dari sebuah tujuan.
Dari sebuah pikiran.
Maka, jagalah apa yang memenuhi pikiranmu hari ini.
Karena dari sanalah lahir setiap tindakan yang akan membentuk masa depanmu.
Bagaimana Menurutmu?
💬 Pernahkah kamu menyadari hal-hal sederhana yang ternyata menyimpan pelajaran besar?
Atau mungkin kamu memiliki pengalaman lain yang membuatmu kagum dengan cara kerja pikiran manusia?
Yuk, bagikan ceritamu di kolom komentar.
Karena sering kali, pelajaran paling berharga justru lahir dari hal-hal yang paling sederhana.
Salam YASSSSSSSHHHHHH!!!

Komentar
Posting Komentar