Rp25.000 yang Hampir Mengubah Jalan Hidup Saya
"Terkadang, perubahan besar dalam hidup dimulai dari keputusan yang terlihat sangat kecil."
Semangat anak muda memang luar biasa.
Hari ini bisa sangat berapi-api.
Besok bisa tiba-tiba padam.
Mungkin kamu juga pernah mengalaminya.
Hari ini bertekad ingin mengubah dunia.
Besok bangun tidur, niatnya ikut menghilang entah ke mana.
Ternyata mempertahankan semangat jauh lebih sulit daripada menumbuhkannya.
Saya pun pernah berada di fase itu.
Keresahan Sudah Ada, Tinggal Bertahan atau Menyerah
Setelah melihat cara organisasi dakwah kampus memperkenalkan dirinya kepada mahasiswa baru, saya merasa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Saya tidak ingin hanya mengkritik.
Saya ingin ikut terlibat.
Keinginan itu benar-benar ada.
Namun, seperti kebanyakan remaja, mental saya saat itu masih sangat labil.
Semangat mudah datang.
Tetapi juga mudah surut.
Dan ujian pertama ternyata datang lebih cepat dari yang saya bayangkan.
Pertemuan yang Tidak Pernah Saya Lupakan
Sebelum mengikuti proses pembinaan, setiap mahasiswa baru harus menjalani tes membaca Al-Qur'an (tahsin).
Tujuannya sederhana, mengetahui kemampuan membaca agar pembelajaran bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta.
Saat itu saya merasa sudah bisa membaca Al-Qur'an.
Walaupun...
Kalau diminta membaca di depan orang lain, rasa paniknya luar biasa.
Mungkin ada yang pernah mengalami hal yang sama.
Merasa lancar ketika membaca sendiri, tetapi tiba-tiba semua hukum bacaan seperti menghilang ketika harus membaca di depan orang lain.
Hehe.
Di situlah saya bertemu dengan seorang kakak tingkat yang menjadi penguji.
Beliau menyambut saya dengan sangat ramah.
Senyumnya hangat.
Pembawaannya tenang.
Dan yang paling saya ingat, beliau melayani pertanyaan-pertanyaan saya sebagai mahasiswa baru dengan penuh kesabaran.
Saat itu saya belum tahu.
Pertemuan singkat tersebut ternyata menjadi salah satu awal perjalanan panjang yang akan saya jalani.
Ujian Pertama Bernama Rp25.000
Beberapa hari kemudian saya kembali bertemu dengannya pada acara rekrutmen.
Di sanalah saya mengetahui bahwa calon peserta harus mengikuti kegiatan menginap selama tiga hari dua malam.
Biayanya?
Rp25.000.
Kalau dibaca sekarang mungkin terdengar sangat kecil.
Tetapi saat itu, bagi mahasiswa baru yang merantau, nominal tersebut cukup berarti.
Uang sebanyak itu bisa digunakan untuk beberapa kali makan.
Bahkan ongkos pulang-pergi naik kereta masih terasa sangat berharga.
Jujur saja...
Saya mulai berpikir ulang.
Semangat Ternyata Bisa Kalah oleh Angka
Ironis sekali.
Beberapa hari sebelumnya saya begitu bersemangat ingin ikut memperbaiki keadaan.
Ingin berkontribusi.
Ingin bergerak.
Namun ketika harus mengeluarkan uang Rp25.000...
Semangat itu mulai redup.
Saya bahkan sempat mengurungkan niat untuk menyerahkan formulir pendaftaran.
Kalau mengingatnya sekarang, saya hanya bisa tersenyum sendiri.
Ternyata idealisme bisa diuji oleh hal yang sangat sederhana.
Untung Ada Teman yang "Jago Jualan"
Di saat saya mulai mundur, datanglah seorang teman sekelas.
Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin bakatnya memang menjadi seorang sales.
Dengan penuh semangat ia membujuk kami.
"Percaya deh, Rp25.000 itu tidak seberapa dibanding pengalaman yang akan kita dapat."
Saya mulai berpikir lagi.
Benar juga.
Tetapi...
Sebagai mahasiswa yang sedang berhemat, saya masih mencoba menawar.
Hehe.
Sayangnya panitia tetap kukuh.
Mungkin karena anggarannya memang sudah dihitung.
Atau mungkin...
Saya saja yang memang tidak pandai menawar.
Keputusan Kecil yang Mengubah Banyak Hal
Akhirnya saya memutuskan untuk ikut.
Jumlah pesertanya ternyata sangat sedikit.
Kalau tidak salah, hanya sekitar 25 orang dari kurang lebih 1.000 mahasiswa muslim angkatan kami.
Artinya, hanya sekitar 2,5 persen.
Secara hitungan manusia, jumlah itu sangat kecil.
Tetapi saya baru menyadari bertahun-tahun kemudian bahwa Allah tidak selalu menilai sesuatu berdasarkan jumlah.
Bisa jadi satu langkah kecil yang dilakukan dengan niat yang benar memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada langkah besar yang tidak pernah dimulai.
Istilah Baru yang Saya Kenal
Di kegiatan itu saya juga mulai mengenal istilah-istilah yang sebelumnya asing bagi saya.
Laki-laki dipanggil ikhwan.
Perempuan disebut akhwat.
Bagi saya yang baru pertama kali mengenalnya, semua terasa unik.
Ada banyak hal baru yang saya pelajari.
Bukan hanya tentang agama.
Tetapi juga tentang budaya, cara berinteraksi, dan lingkungan yang sebelumnya belum pernah saya kenal.
Saya Belum Tahu Apa yang Menanti di Depan
Ketika pertama kali melihat penampilan organisasi ini saat orientasi mahasiswa baru, saya sempat menganggapnya membosankan.
Saya bahkan hampir tidak jadi bergabung.
Namun setelah benar-benar masuk ke dalamnya, saya mulai menyadari bahwa saya baru melihat kulit luarnya saja.
Perjalanan yang sebenarnya justru baru akan dimulai.
Dan saya sama sekali belum menyangka bahwa keputusan sederhana mengeluarkan Rp25.000 hari itu akan membawa begitu banyak perubahan dalam hidup saya.
Bagaimana denganmu?
💬 Pernahkah kamu hampir membatalkan sesuatu karena alasan yang sekarang terasa sepele, tetapi ternyata keputusan itu justru mengubah hidupmu?
Bagikan ceritamu di kolom komentar. Siapa tahu pengalamanmu bisa menjadi pengingat bahwa kesempatan besar sering kali datang melalui keputusan-keputusan kecil.
Salam YASSSSSSSHHHHHH!!!

Komentar
Posting Komentar