Seri Sejarah Islam #2: Penciptaan Langit dan Bumi Menurut Al-Qur'an | Enam Masa Penciptaan

 

Penciptaan Langit dan Bumi Menurut Al-Qur'an: Benarkah Allah Menciptakannya dalam Enam Hari?

Bagaimana Allah menciptakan langit dan bumi? Simak penjelasan lengkap berdasarkan Al-Qur'an, hadits shahih, tafsir Ibnu Katsir, Ath-Thabari, Al-Qurthubi, serta pandangan ulama.


Pendahuluan

Setelah memahami bahwa Allah menciptakan alam semesta dengan tujuan yang penuh hikmah, pertanyaan berikutnya yang sering muncul adalah: bagaimana proses penciptaan langit dan bumi menurut Al-Qur'an?

Al-Qur'an tidak menjelaskan seluruh detail proses penciptaan sebagaimana buku sains modern, tetapi memberikan prinsip-prinsip dasar yang menjadi petunjuk bagi manusia. Ayat-ayat tentang penciptaan mengajak manusia merenungkan kebesaran Allah, bukan sekadar memenuhi rasa ingin tahu tentang kronologi.

Dalam artikel ini kita akan membahas ayat-ayat Al-Qur'an, hadits, tafsir para ulama, serta bagaimana umat Islam memahami istilah "enam masa" penciptaan.


Allah Menciptakan Langit dan Bumi

Allah berfirman:

"Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy."

(QS. Al-A'raf: 54)

Ayat serupa juga terdapat dalam:

  • QS. Yunus: 3
  • QS. Hud: 7
  • QS. Al-Furqan: 59
  • QS. As-Sajdah: 4
  • QS. Qaf: 38
  • QS. Al-Hadid: 4

Banyaknya pengulangan menunjukkan bahwa penciptaan langit dan bumi merupakan bagian penting dalam akidah Islam.


Apa yang Dimaksud "Enam Masa"?

Sebagian orang menerjemahkan kata sittati ayyām sebagai enam hari. Namun, para mufasir menjelaskan bahwa kata yaum dalam bahasa Arab tidak selalu berarti 24 jam sebagaimana hari dalam kalender manusia.

Al-Qur'an sendiri menggunakan kata yaum untuk menunjukkan rentang waktu yang berbeda.

Allah berfirman:

"Sesungguhnya satu hari di sisi Tuhanmu seperti seribu tahun menurut perhitunganmu."

(QS. Al-Hajj: 47)

Dalam ayat lain:

"Dalam satu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun."

(QS. Al-Ma'arij: 4)

Karena itu, mayoritas ulama memahami bahwa enam masa adalah enam tahapan penciptaan yang hanya diketahui hakikat waktunya oleh Allah.


Mengapa Allah Menciptakan dalam Enam Masa?

Allah tentu Mahakuasa menciptakan segala sesuatu hanya dengan firman "Kun fayakun" (Jadilah, maka jadilah).

Mengapa tidak diciptakan seketika?

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa penciptaan secara bertahap mengandung hikmah, di antaranya:

  • Mengajarkan keteraturan.
  • Menunjukkan bahwa setiap ciptaan memiliki ukuran dan ketentuan.
  • Menjadi pelajaran bagi manusia agar tidak tergesa-gesa.
  • Menunjukkan kesempurnaan perencanaan Allah.

Dengan demikian, enam masa bukan karena Allah membutuhkan waktu, tetapi karena hikmah yang Dia kehendaki.


Langit dan Bumi Dahulu Menyatu

Allah berfirman:

"Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu merupakan satu kesatuan, kemudian Kami pisahkan keduanya..."

(QS. Al-Anbiya': 30)

Para ulama tafsir memiliki beberapa penjelasan mengenai ayat ini.

Pendapat pertama

Langit dan bumi dahulu merupakan satu kesatuan, kemudian Allah memisahkannya.

Pendapat kedua

Langit tidak menurunkan hujan dan bumi tidak menumbuhkan tanaman, lalu Allah membuka keduanya.

Ath-Thabari menyebutkan kedua pendapat tersebut dan tidak memastikan salah satunya secara mutlak.

Sebagian penulis modern mengaitkan ayat ini dengan teori Big Bang. Namun, perlu kehati-hatian. Al-Qur'an bukan buku fisika, sehingga kita tidak boleh memaksakan setiap teori ilmiah ke dalam ayat. Yang tepat adalah mengatakan bahwa terdapat kesesuaian pada beberapa aspek, tetapi Al-Qur'an memiliki tujuan utama sebagai petunjuk hidup.


Langit Dibangun dengan Kekuatan Allah

Allah berfirman:

"Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan, dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya."

(QS. Adz-Dzariyat: 47)

Ayat ini menunjukkan kebesaran Allah dalam menciptakan alam semesta. Sebagian mufasir klasik memahami kata mūsi'ūn sebagai "Maha Luas Kekuasaan-Nya", sementara sebagian ulama kontemporer juga mengaitkannya dengan keluasan alam semesta. Keduanya tidak saling bertentangan selama tidak dipastikan melebihi makna yang didukung bahasa Arab dan tafsir.


Gunung Sebagai Pasak Bumi

Allah berfirman:

"Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak?"

(QS. An-Naba': 6–7)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa gunung menjadi penyeimbang dan peneguh bumi sesuai kehendak Allah. Ayat ini mengajarkan bahwa penciptaan alam memiliki fungsi dan keseimbangan, meskipun rincian mekanismenya terus dipelajari melalui ilmu geologi.


Matahari, Bulan, dan Bintang

Allah menciptakan benda-benda langit bukan tanpa tujuan.

Al-Qur'an menjelaskan fungsinya:

  • Penentu waktu.
  • Sarana navigasi.
  • Perhitungan kalender.
  • Hiasan langit dunia.
  • Tanda kebesaran Allah.

Allah berfirman:

"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya serta menetapkan manzilah-manzilahnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu."

(QS. Yunus: 5)


Allah Tidak Merasa Lelah

Berbeda dengan sebagian keyakinan lain yang menyebut Tuhan beristirahat setelah menciptakan alam, Al-Qur'an menegaskan:

"Dan sungguh Kami telah menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, dan Kami tidak ditimpa keletihan sedikit pun."

(QS. Qaf: 38)

Ayat ini menegaskan kesempurnaan kekuasaan Allah. Penciptaan tidak mengurangi keagungan-Nya dan tidak menyebabkan kelelahan.


Arsy Allah

Allah berfirman:

"...kemudian Dia bersemayam di atas Arsy."

(QS. Al-A'raf: 54)

Ahlus Sunnah menetapkan bahwa Allah beristiwa di atas Arsy sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk, tanpa menanyakan bagaimana caranya (bilā kayf), dan tanpa menolak makna ayat. Sikap ini mengikuti pemahaman para sahabat dan ulama salaf.


Air Sebagai Awal Kehidupan

Allah berfirman:

"Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup."

(QS. Al-Anbiya': 30)

Ayat ini menunjukkan pentingnya air dalam kehidupan. Penelitian ilmiah modern juga menunjukkan bahwa seluruh makhluk hidup bergantung pada air, namun bagi seorang Muslim, hal ini semakin menguatkan keyakinan terhadap kebesaran Allah sebagai Pencipta.


Langit yang Terpelihara

Allah berfirman:

"Dan Kami menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara."

(QS. Al-Anbiya': 32)

Para mufasir menjelaskan bahwa langit merupakan tanda penjagaan Allah terhadap kehidupan di bumi. Di sisi lain, ilmu pengetahuan modern mengenal berbagai sistem yang melindungi bumi, seperti atmosfer dan medan magnet. Temuan ilmiah dapat menjadi sarana untuk merenungi kebesaran ciptaan Allah, tanpa menjadikan teori ilmiah sebagai satu-satunya penafsiran ayat.


Pelajaran yang Dapat Diambil

Dari ayat-ayat tentang penciptaan langit dan bumi, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting:

  1. Allah menciptakan alam dengan tujuan, bukan secara sia-sia.
  2. Enam masa penciptaan menunjukkan keteraturan dan hikmah, bukan keterbatasan kekuasaan Allah.
  3. Al-Qur'an mengajak manusia berpikir, meneliti, dan merenungkan alam semesta.
  4. Sains dan wahyu memiliki ranah masing-masing; keduanya dapat saling melengkapi selama ditempatkan secara proporsional.
  5. Kebesaran alam semesta hendaknya menumbuhkan rasa syukur dan ketundukan kepada Allah.

Kesimpulan

Penciptaan langit dan bumi merupakan salah satu tanda terbesar kekuasaan Allah. Al-Qur'an mengajarkan bahwa alam semesta diciptakan dalam enam masa sesuai hikmah-Nya, bukan karena Allah membutuhkan waktu atau tenaga. Ayat-ayat tentang penciptaan mengajak manusia untuk menggunakan akal, memperkuat keimanan, dan menyadari bahwa seluruh alam berada di bawah kekuasaan Allah.

Memahami asal-usul langit dan bumi menjadi landasan sebelum mempelajari penciptaan makhluk-makhluk lain yang disebutkan dalam Al-Qur'an.

Pada artikel berikutnya, kita akan membahas penciptaan Arsy, Lauhul Mahfuz, Al-Qalam, dan Malaikat berdasarkan Al-Qur'an, hadits shahih, serta penjelasan para ulama. Topik ini penting karena berkaitan dengan urutan awal penciptaan menurut sumber-sumber Islam yang sahih.


Referensi

Al-Qur'an

  • QS. Al-A'raf: 54
  • QS. Yunus: 3, 5
  • QS. Hud: 7
  • QS. Al-Anbiya': 30, 32
  • QS. Adz-Dzariyat: 47
  • QS. Qaf: 38
  • QS. An-Naba': 6–7
  • QS. Al-Hajj: 47
  • QS. Al-Ma'arij: 4
  • QS. Al-Hadid: 4
  • QS. Al-Furqan: 59
  • QS. As-Sajdah: 4

Kitab Tafsir

  • Tafsir al-Qur'an al-'Azhim – Ibnu Katsir.
  • Jami' al-Bayan – Ath-Thabari.
  • Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an – Al-Qurthubi.
  • Taysir al-Karim ar-Rahman – As-Sa'di.

Kitab Tarikh

  • Al-Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir.

Referensi Akademik

  • Seyyed Hossein Nasr, Islamic Science: An Illustrated Study.
  • Maurice Bucaille, The Bible, The Qur'an and Science (dibaca secara kritis sebagai karya perbandingan, bukan sebagai kitab tafsir).

Komentar