Seri Sejarah Islam #1: Allah Adalah Pencipta Segala Sesuatu

 

Seri Sejarah Islam #1

Pendahuluan

Ketika mempelajari sejarah manusia, kebanyakan buku sejarah memulai pembahasannya dari zaman batu, peradaban Mesopotamia, atau Mesir Kuno. Namun Islam memberikan sudut pandang yang berbeda. Sejarah manusia dimulai jauh sebelum adanya kerajaan, bangsa, maupun peradaban.

Al-Qur'an mengajarkan bahwa sebelum Nabi Adam AS diciptakan, Allah telah lebih dahulu menciptakan langit, bumi, malaikat, jin, dan berbagai makhluk lainnya. Oleh karena itu, memahami tujuan penciptaan alam semesta merupakan fondasi penting untuk memahami sejarah umat manusia menurut Islam.

Artikel ini akan membahas pertanyaan mendasar: Mengapa Allah menciptakan alam semesta? Pembahasan disusun berdasarkan Al-Qur'an, hadits shahih, tafsir para ulama, dan literatur sejarah Islam yang diakui.


Allah Adalah Pencipta Segala Sesuatu

Al-Qur'an menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta seluruh makhluk.

"Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu."

(QS. Az-Zumar: 62)

Ayat ini menjadi dasar akidah Islam bahwa tidak ada satu pun makhluk yang tercipta dengan sendirinya. Seluruh alam berada dalam kekuasaan Allah.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat tersebut mencakup seluruh makhluk tanpa pengecualian, baik yang tampak maupun yang tidak tampak.


Apakah Allah Membutuhkan Alam Semesta?

Pertanyaan yang sering muncul adalah, apakah Allah menciptakan alam karena membutuhkan makhluk?

Jawabannya adalah tidak.

Allah berfirman:

وَمَنْ جَاهَدَ فَاِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ

"Dan barangsiapa berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri. Sungguh, Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam."

(QS. Al-'Ankabut: 6)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

"Jika kamu kufur, sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu. Dia pun tidak meridai kekufuran hamba-hamba-Nya. Jika kamu bersyukur, Dia meridai kesyukuranmu itu. Seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain. Kemudian, kepada Tuhanmulah kembalimu, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan di dalam dada."

(QS. Az-Zumar: 7)

Para ulama menjelaskan bahwa Allah Maha Sempurna sebelum menciptakan alam dan tetap Maha Sempurna setelah menciptakannya. Penciptaan bukan untuk memenuhi kebutuhan Allah, melainkan merupakan bagian dari hikmah, ilmu, dan kehendak-Nya.


Allah Menciptakan Alam dengan Tujuan

Islam menolak anggapan bahwa alam semesta terjadi secara kebetulan atau tanpa makna.

Allah berfirman:

"Tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia."

(QS. Shad: 27)

Ayat serupa juga terdapat dalam:

  • QS. Ali Imran: 191
  • QS. Ad-Dukhan: 38–39
  • QS. Al-Anbiya': 16

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa seluruh ciptaan memiliki hikmah, meskipun tidak semua hikmah dapat dijangkau oleh akal manusia.


Tujuan Utama Penciptaan Manusia dan Jin

Ayat yang paling sering dijadikan rujukan mengenai tujuan penciptaan adalah firman Allah:

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."

(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Kata ibadah tidak hanya berarti salat atau puasa. Menurut Tafsir Ath-Thabari, ibadah mencakup seluruh bentuk ketaatan kepada Allah, baik melalui amal lahir maupun batin.

Dengan demikian, bekerja secara halal, menuntut ilmu, menolong sesama, menjaga amanah, dan berbuat adil juga termasuk bentuk ibadah apabila diniatkan karena Allah.


Allah Ingin Menguji Manusia

Allah juga menjelaskan bahwa kehidupan dunia merupakan tempat ujian.

"Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya."

(QS. Al-Mulk: 2)

Para mufasir menjelaskan bahwa yang dinilai bukan sekadar banyaknya amal, tetapi kualitas, keikhlasan, dan kesesuaiannya dengan petunjuk Rasulullah ﷺ.


Manusia Sebagai Khalifah di Bumi

Salah satu tujuan penciptaan manusia dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 30.

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi."

Kata khalifah tidak berarti manusia adalah penguasa mutlak atas bumi, melainkan wakil yang diberi amanah untuk memakmurkan, menjaga, dan mengelola bumi sesuai aturan Allah.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa manusia diberi akal, ilmu, dan kebebasan memilih sehingga memiliki tanggung jawab moral yang tidak dimiliki makhluk lain.


Alam Semesta Sebagai Tanda Kebesaran Allah

Allah berulang kali mengajak manusia memperhatikan ciptaan-Nya.

"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal."

(QS. Ali Imran: 190)

Karena itu, mempelajari astronomi, biologi, geologi, maupun ilmu alam lainnya dapat menjadi sarana untuk semakin mengenal kebesaran Allah apabila disertai keimanan.


Alam Semesta Diciptakan dengan Keseimbangan

Allah menciptakan alam dengan ukuran yang sangat presisi.

"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran."

(QS. Al-Qamar: 49)

Ayat ini menunjukkan adanya keteraturan hukum alam, yang menjadi dasar bagi berkembangnya ilmu pengetahuan. Banyak ilmuwan Muslim klasik memandang penelitian terhadap alam sebagai bagian dari upaya memahami tanda-tanda kekuasaan Allah.


Hadits tentang Penciptaan Makhluk

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Allah telah menetapkan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi."

(HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa seluruh penciptaan berada dalam ilmu dan ketetapan Allah. Konsep takdir dalam Islam tidak menghilangkan tanggung jawab manusia, tetapi menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu sejak sebelum alam diciptakan.


Apa yang Pertama Kali Diciptakan?

Para ulama berbeda pendapat dalam mengompromikan beberapa hadits tentang makhluk pertama yang diciptakan. Di antaranya terdapat riwayat mengenai pena (al-qalam), air, dan Arsy.

Mayoritas ulama menjelaskan bahwa:

  • Arsy Allah telah ada sebelum penciptaan langit dan bumi.
  • Allah menciptakan pena (al-qalam) dan memerintahkannya menulis seluruh ketetapan.
  • Air juga disebut telah ada sebelum penciptaan langit dan bumi, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Hud ayat 7.

Perbedaan ini lebih berkaitan dengan urutan rinci penciptaan, bukan pada pokok akidah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk menerima nash yang sahih tanpa berspekulasi melebihi keterangan yang ada.


Hikmah Penciptaan Alam Semesta

Dari berbagai ayat dan penjelasan ulama, dapat disimpulkan beberapa hikmah utama:

  1. Menunjukkan kebesaran dan kesempurnaan Allah.
  2. Menjadi tempat ujian bagi manusia dan jin.
  3. Menjadi sarana manusia mengenal dan beribadah kepada Allah.
  4. Menjadi amanah yang harus dikelola dengan adil.
  5. Menjadi bukti adanya hari kebangkitan dan kehidupan akhirat.

Pelajaran yang Dapat Diambil

  • Alam semesta bukan tercipta secara kebetulan, tetapi dengan hikmah dan tujuan.
  • Manusia memiliki amanah sebagai khalifah di bumi, bukan pemilik mutlaknya.
  • Ilmu pengetahuan dan keimanan tidak perlu dipertentangkan; keduanya dapat saling menguatkan dalam memahami tanda-tanda kebesaran Allah.
  • Tujuan hidup seorang Muslim adalah beribadah kepada Allah dalam arti yang luas, mencakup seluruh amal saleh yang dilakukan dengan niat yang benar.

Penutup

Sejarah menurut Islam tidak dimulai dari berdirinya kerajaan atau lahirnya peradaban, melainkan dari kehendak Allah untuk menciptakan alam semesta sebagai bagian dari rencana-Nya yang penuh hikmah. Memahami tujuan penciptaan merupakan langkah awal sebelum mempelajari penciptaan malaikat, jin, Nabi Adam AS, serta perjalanan panjang umat manusia hingga masa-masa berikutnya.

Pada artikel selanjutnya, kita akan membahas bagaimana Allah menciptakan langit dan bumi menurut Al-Qur'an, hadits, dan penjelasan para ulama, serta bagaimana para mufasir memahami ayat-ayat tentang enam masa penciptaan.


Referensi

Al-Qur'an

  • QS. Al-Baqarah: 30
  • QS. Ali Imran: 190–191
  • QS. Adz-Dzariyat: 56
  • QS. Al-Mulk: 2
  • QS. Az-Zumar: 7, 62
  • QS. Al-'Ankabut: 6
  • QS. Shad: 27
  • QS. Al-Anbiya': 16
  • QS. Al-Qamar: 49
  • QS. Hud: 7

Hadits

  • Shahih Muslim, Kitab al-Qadar (tentang penetapan takdir sebelum penciptaan langit dan bumi).

Kitab Tafsir

  • Tafsir al-Qur'an al-'Azhim — Ibnu Katsir.
  • Jami' al-Bayan — Ath-Thabari.
  • Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an — Al-Qurthubi.
  • Taysir al-Karim ar-Rahman — As-Sa'di.

Literatur Pendukung

  • Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah.
  • Jonathan A. C. Brown, Hadith: Muhammad's Legacy in the Medieval and Modern World (untuk konteks studi hadits modern).

Komentar