Identitas Buku
Judul: Tarbiyah Dzatiyah (Membina Diri Sendiri)
Judul Asli: At-Tarbiyah adz-Dzatiyah: Ma'alim wa Taujihat
Penulis: Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al-Aidan
Penerjemah: Fadhli Bahri, Lc.
Penerbit: An-Nadwah, Jakarta
Tema: Pembinaan diri (Self Development dalam perspektif Islam)
Pendahuluan
Banyak kaum muslimin bersemangat mengikuti majelis ilmu, halaqah, dauroh, atau kegiatan pembinaan. Namun setelah kegiatan tersebut selesai, semangat sering kali menurun. Hal ini menunjukkan bahwa pembinaan dari luar saja tidak cukup apabila tidak disertai dengan kemauan membina diri sendiri.
Melalui buku Tarbiyah Dzatiyah, Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al-Aidan menjelaskan bahwa keberhasilan seorang muslim dalam memperbaiki dirinya sangat bergantung pada kesungguhan dirinya sendiri. Guru, orang tua, murabbi, maupun lingkungan hanya berfungsi sebagai pembimbing. Adapun perubahan yang sesungguhnya lahir dari kesadaran pribadi untuk terus memperbaiki diri.
A. Definisi Tarbiyah Dzatiyah
Tarbiyah Dzatiyah adalah proses pembinaan yang dilakukan seorang muslim terhadap dirinya sendiri dengan tujuan membentuk kepribadian Islam secara utuh.
Pembinaan tersebut mencakup seluruh aspek kehidupan, di antaranya:
Aqidah dan keimanan.
Ilmu.
Ibadah.
Akhlak.
Kehidupan sosial.
Kepribadian.
Pengendalian diri.
Dengan kata lain, tarbiyah dzatiyah adalah kemampuan seseorang menjadi pendidik bagi dirinya sendiri sehingga ia terus berkembang menuju kesempurnaan akhlak dan ketaatan kepada Allah.
Penulis juga menjelaskan bahwa tarbiyah dzatiyah bukan pengganti tarbiyah jama'iyah (pembinaan bersama melalui majelis ilmu atau halaqah), tetapi menjadi pelengkap yang membuat proses pembinaan tetap berlangsung kapan pun dan di mana pun.
B. Urgensi Tarbiyah Dzatiyah
1. Menjaga diri didahulukan sebelum memperbaiki orang lain
Allah memerintahkan setiap orang beriman agar terlebih dahulu menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka.
"Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6)
Perintah ini menunjukkan bahwa pembinaan diri merupakan kewajiban pribadi sebelum seseorang mengajak orang lain kepada kebaikan.
2. Tidak ada orang yang dapat membina diri kita selain diri sendiri
Pada masa kecil seseorang dibimbing oleh orang tua dan guru. Namun ketika telah dewasa, tanggung jawab pembinaan beralih kepada dirinya sendiri.
Apabila seseorang tidak memiliki kesadaran untuk memperbaiki dirinya, maka kesempatan-kesempatan untuk beramal saleh akan berlalu tanpa manfaat.
3. Setiap manusia akan dihisab secara individual
Pada Hari Kiamat setiap orang datang sendiri-sendiri menghadap Allah.
"Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada hari Kiamat seorang diri." (QS. Maryam: 95)
Tidak ada orang tua, guru, sahabat, ataupun pembimbing yang dapat menggantikan amal seseorang. Oleh karena itu, setiap muslim wajib bertanggung jawab atas kualitas dirinya sendiri.
4. Tarbiyah Dzatiyah merupakan sarana perubahan yang paling efektif
Perubahan yang berasal dari kesadaran diri lebih bertahan lama dibandingkan perubahan karena tekanan lingkungan.
Ketika seseorang memahami kelemahannya lalu memperbaikinya dengan ikhlas, perubahan tersebut akan menjadi bagian dari kepribadiannya.
5. Menjadi sebab istiqamah
Orang yang terus membina dirinya akan lebih mudah menjaga konsistensi dalam ibadah dan amal saleh.
Ia tidak bergantung pada keberadaan guru atau suasana tertentu untuk tetap taat kepada Allah.
6. Menjadi kekuatan dalam berdakwah
Keberhasilan dakwah sangat dipengaruhi oleh kualitas pribadi seorang da'i.
Seseorang yang mampu memperbaiki dirinya akan lebih mudah memberikan teladan kepada orang lain dibandingkan hanya menyampaikan nasihat.
7. Jalan memperbaiki masyarakat
Masyarakat terdiri dari individu-individu.
Apabila individu-individu tersebut memiliki kualitas iman dan akhlak yang baik, maka masyarakat pun akan menjadi lebih baik.
8. Mudah diterapkan
Keistimewaan tarbiyah dzatiyah adalah tidak membutuhkan tempat atau waktu khusus.
Setiap muslim dapat melakukannya kapan saja melalui berbagai bentuk amal, ibadah, dan evaluasi diri.
C. Penyebab Lemahnya Tarbiyah Dzatiyah
Penulis menyebutkan beberapa sebab yang membuat seseorang lalai membina dirinya.
1. Kurangnya ilmu
Orang yang tidak memahami pentingnya pembinaan diri cenderung mengabaikannya.
2. Tidak memiliki tujuan hidup yang jelas
Tanpa tujuan yang benar, seseorang akan menjalani hidup tanpa arah sehingga sulit berkembang.
3. Terlalu mencintai dunia
Kesibukan mengejar dunia sering membuat seseorang melupakan kewajiban memperbaiki dirinya.
4. Salah memahami konsep tarbiyah
Sebagian orang menganggap tarbiyah hanya berlangsung di halaqah atau majelis ilmu.
Padahal pembinaan terbesar justru berlangsung setelah kegiatan tersebut selesai.
5. Lemahnya lingkungan pembinaan
Kurangnya lingkungan yang mendukung menyebabkan semangat seseorang mudah menurun.
6. Sedikitnya pembimbing
Murabbi memiliki peran penting, tetapi jumlahnya terbatas.
Karena itu setiap muslim harus belajar menjadi pembimbing bagi dirinya sendiri.
7. Panjang angan-angan
Menunda taubat dan amal saleh dengan alasan masih muda merupakan salah satu penyebab kegagalan pembinaan diri.
D. Sarana Tarbiyah Dzatiyah
Penulis menyebutkan delapan sarana utama.
1. Muhasabah
Muhasabah merupakan evaluasi terhadap seluruh amal yang telah dilakukan.
Allah berfirman:
"Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok." (QS. Al-Hasyr: 18)
Muhasabah mencakup:
mengevaluasi ibadah yang kurang sempurna;
menilai pilihan amal yang telah dilakukan;
mengevaluasi penggunaan waktu dan kesempatan.
2. Bertaubat
Setiap dosa harus segera disertai taubat.
Menunda taubat berarti menambah kesalahan baru.
Taubat yang benar dilakukan dengan:
meninggalkan dosa;
menyesalinya;
bertekad tidak mengulanginya.
3. Menuntut ilmu
Ilmu merupakan pondasi perubahan.
Penulis menekankan empat tahapan:
belajar dengan ikhlas;
bersungguh-sungguh mencari ilmu;
mengamalkan ilmu;
mengajarkan ilmu kepada orang lain.
4. Memperbanyak amal keimanan
Pembinaan diri dilakukan dengan memperkuat hubungan kepada Allah melalui:
menjaga ibadah wajib;
memperbanyak ibadah sunnah;
memperbanyak dzikir;
membaca Al-Qur'an;
memperbanyak doa.
5. Memperbaiki akhlak
Akhlak yang baik merupakan buah dari keimanan.
Penulis mengajak pembaca untuk:
melatih kesabaran;
membersihkan hati dari penyakit hati;
membiasakan akhlak mulia;
bergaul dengan orang-orang saleh;
menjaga adab dalam kehidupan sehari-hari.
6. Aktif dalam dakwah
Dakwah bukan hanya tugas ulama.
Setiap muslim dapat berdakwah sesuai kemampuan melalui:
ucapan;
tulisan;
keteladanan;
membantu kegiatan dakwah.
7. Mujahadah
Mujahadah berarti bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu.
Proses ini dilakukan secara bertahap.
Allah berfirman:
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-'Ankabut: 69)
Kesabaran menjadi bekal utama dalam mujahadah.
8. Berdoa kepada Allah
Semua usaha memperbaiki diri harus disertai doa.
Allah menjanjikan akan mengabulkan doa hamba-Nya.
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu." (QS. Ghafir: 60)
E. Buah Tarbiyah Dzatiyah
Menurut penulis, orang yang terus membina dirinya akan memperoleh berbagai manfaat.
1. Meraih ridha Allah dan surga-Nya
Tujuan tertinggi dari seluruh proses pembinaan adalah memperoleh keridhaan Allah.
2. Kehidupan yang tenang
Keimanan yang kuat melahirkan ketenangan hati dalam menghadapi berbagai keadaan.
3. Dicintai Allah
Semakin dekat seorang hamba kepada Allah melalui amal-amal sunnah, semakin besar kecintaan Allah kepadanya.
4. Kesuksesan hidup
Pembinaan diri melahirkan pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki tujuan hidup yang jelas.
5. Terjaga dari berbagai keburukan
Allah memberikan pertolongan kepada hamba-hamba yang beriman dan berusaha memperbaiki dirinya.
6. Keberkahan waktu dan rezeki
Orang yang menjaga hubungan dengan Allah akan lebih mampu memanfaatkan waktu serta hartanya untuk hal-hal yang bermanfaat.
7. Memiliki kesabaran menghadapi ujian
Pembinaan diri menjadikan seseorang lebih siap menghadapi kesulitan hidup tanpa mudah putus asa.
8. Merasakan keamanan hati
Istiqamah dalam ketaatan melahirkan ketenangan dan rasa aman, baik di dunia maupun di akhirat.
Kesimpulan
Pesan utama buku Tarbiyah Dzatiyah adalah bahwa keberhasilan seorang muslim tidak hanya ditentukan oleh banyaknya ilmu atau aktivitas keislaman yang diikutinya, tetapi oleh kemampuannya membina dirinya sendiri secara terus-menerus.
Tarbiyah dzatiyah bukanlah kegiatan sesaat, melainkan proses sepanjang hayat yang dilakukan melalui muhasabah, taubat, menuntut ilmu, memperbanyak ibadah, memperbaiki akhlak, berdakwah, bermujahadah melawan hawa nafsu, dan senantiasa memohon pertolongan Allah.
Semakin kuat seseorang membina dirinya, semakin besar peluangnya untuk menjadi pribadi yang istiqamah, bermanfaat bagi masyarakat, serta memperoleh ridha Allah SWT.
Referensi
Abdullah bin Abdul Aziz Al-Aidan. At-Tarbiyah adz-Dzatiyah: Ma'alim wa Taujihat (edisi terjemahan Indonesia: Tarbiyah Dzatiyah, Penerbit An-Nadwah).
Ringkasan Pustaka Hanan yang memuat identitas buku dan struktur pembahasannya.
Entri bibliografi dan deskripsi buku di Goodreads.

Komentar
Posting Komentar