DIBALIK SUKSES #007 Ciputra: Anak Desa yang Mengubah Kota Menjadi Bisnis


"Di balik setiap kesuksesan, selalu ada keputusan yang mengubah segalanya."


Pembukaan

Ada pengusaha yang membangun perusahaan.

Ada pula pengusaha yang membangun kota.

Ciputra termasuk yang kedua.

Dari seorang anak yang tumbuh di Parigi, Sulawesi Tengah, ia kemudian menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah properti Indonesia.

Namanya berada di balik proyek-proyek besar seperti Taman Impian Jaya Ancol, Bintaro Jaya, Pondok Indah, hingga berbagai kota mandiri.

Namun perjalanan menuju sana tidak selalu mulus.

Krisis 1997 membuat bisnisnya terpukul hebat. Dalam pengakuannya sendiri, secara teknis ia bahkan pernah merasa sudah bangkrut.

Tetapi ia bangkit.

Dan yang lebih menarik, Ciputra tidak hanya meninggalkan perusahaan. Ia meninggalkan gagasan tentang kewirausahaan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.


Mengapa Indonesia Masih Membicarakan Ciputra?

Ciputra lahir di Parigi pada 24 Agustus 1931 dan meninggal di Singapura pada 27 November 2019 dalam usia 88 tahun.

Ia dikenal sebagai pendiri atau tokoh utama di balik tiga kelompok bisnis besar: Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group. Ketiganya melahirkan berbagai proyek properti berskala besar di Indonesia dan kawasan Asia. (Universitas Ciputra)

Namun kontribusinya tidak berhenti di properti.

Ciputra juga dikenal sebagai pendidik dan filantropis yang aktif mendorong kewirausahaan, pendidikan, seni, dan olahraga.


Masa Kecil di Parigi

Ciputra menghabiskan masa kecil hingga remajanya di Parigi, Sulawesi Tengah.

Ia kemudian bersekolah di SMP dan SMA Frater Don Bosco di Manado, Sulawesi Utara.

Kehidupannya di daerah membentuk karakter yang kemudian sangat terlihat dalam perjalanan bisnisnya: berani bekerja keras, mandiri, dan memiliki keinginan kuat untuk memperbaiki kehidupan.

Tidak ada yang menunjukkan bahwa anak dari Parigi ini kelak akan menjadi salah satu pengembang properti terbesar Indonesia.


Merantau ke Bandung

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Ciputra diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan memilih bidang arsitektur.

Di kampus inilah naluri bisnisnya mulai terlihat.

Saat masih menjadi mahasiswa, ia bersama dua sahabatnya, Budi Brasali dan Ismail Sofyan, mendirikan usaha konsultan arsitektur.

Yang menarik, kantor awal mereka bukanlah gedung megah.

Mereka memulainya dari sebuah garasi.

Dari sinilah Ciputra belajar bahwa bisnis tidak harus dimulai dengan fasilitas besar. Yang lebih penting adalah kemampuan menciptakan nilai. (tirto.id)


Memilih Menjadi Pengembang

Setelah lulus sebagai insinyur arsitektur pada 1960, Ciputra memiliki pilihan untuk menjalani profesi sebagai konsultan.

Namun ia memilih jalan berbeda.

Ia ingin menjadi pengembang.

Keputusan ini menjadi titik penting dalam hidupnya.

Ia tidak hanya ingin merancang bangunan, tetapi ingin menciptakan kawasan yang memiliki kehidupan ekonomi di dalamnya.

Gagasan tersebut kemudian menjadi ciri khas hampir seluruh perjalanan bisnisnya.


Jaya Group dan Pertemuan dengan Dunia Pemerintahan

Pada awal 1960-an, Ciputra dipercaya memimpin PT Pembangunan Jaya, perusahaan yang terkait dengan Pemerintah DKI Jakarta.

Di sinilah ia mendapatkan ruang untuk mengembangkan gagasan-gagasan besar.

Salah satu proyek paling terkenal adalah Pasar Senen.

Namun proyek yang kemudian membuat namanya semakin dikenal adalah Taman Impian Jaya Ancol.


Mengubah Rawa Menjadi Ancol

Ketika Ciputra mendapatkan kepercayaan untuk mengembangkan Ancol, kawasan tersebut bukanlah destinasi wisata seperti yang dikenal masyarakat sekarang.

Ia melihat potensi dari kawasan yang belum produktif.

Dengan perencanaan dan studi kelayakan yang panjang, kawasan tersebut dikembangkan menjadi kawasan wisata terpadu.

Pantai, hotel, pusat rekreasi, ruang seni, perdagangan, dan berbagai fasilitas lainnya kemudian tumbuh di kawasan tersebut. (Universitas Ciputra)

Hari ini, Ancol menjadi salah satu destinasi rekreasi terbesar di Jakarta.

Dan menariknya, pengembangan awal tersebut berawal dari sebuah gagasan:

mengubah sesuatu yang dianggap tidak bernilai menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.


Bukan Hanya Satu Kerajaan Bisnis

Ciputra kemudian ikut membangun Metropolitan Group bersama sejumlah mitra bisnis.

Dari kelompok bisnis tersebut lahir proyek-proyek besar seperti Pondok Indah dan Bumi Serpong Damai.

Dengan demikian, Ciputra tidak hanya membangun satu perusahaan.

Ia membangun dan mengembangkan beberapa kelompok usaha dengan struktur kepemilikan dan mitra yang berbeda.

Kemampuan berkolaborasi inilah yang menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam perjalanan bisnisnya. (tirto.id)


Membangun Bisnis Keluarga

Pada awal 1980-an, Ciputra mulai membangun perusahaan keluarga yang kemudian berkembang menjadi Ciputra Group.

Embrionya adalah PT Citra Habitat Indonesia yang didirikan bersama keluarga pada 1981. (Ciputra)

Dari sinilah lahir berbagai proyek properti dengan nama Ciputra yang kemudian tersebar di berbagai kota.

Ia tidak hanya membangun rumah.

Ia membangun kawasan.

Dan kawasan yang berhasil bukan sekadar kumpulan bangunan, tetapi ekosistem ekonomi yang terdiri dari hunian, pusat perdagangan, perkantoran, rekreasi, pendidikan, dan berbagai fasilitas lainnya.


Ketika Krisis Menghantam

Kemudian datang tahun 1997.

Krisis finansial Asia menghantam Indonesia.

Nilai rupiah jatuh tajam, sementara perusahaan-perusahaan yang memiliki utang dalam valuta asing menghadapi tekanan berat.

Ciputra Group tidak luput dari masalah tersebut.

Dalam sebuah kesaksian yang dimuat dalam publikasi Ciputra, Ciputra mengatakan bahwa secara teknis dirinya sudah bangkrut karena utang perusahaan meningkat berkali-kali lipat akibat jatuhnya rupiah. (Ciputra)

Ini adalah salah satu titik terendah terbesar dalam perjalanan bisnisnya.


Tidak Melarikan Diri dari Krisis

Yang menarik bukan hanya seberapa besar kerugiannya.

Tetapi bagaimana ia merespons.

Ciputra memilih menghadapi masalah tersebut dan melakukan restrukturisasi serta menunggu pemulihan kondisi ekonomi.

Bisnisnya kemudian kembali berkembang.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu pelajaran terpenting dalam hidupnya:

sebuah perusahaan dapat mengalami kehancuran finansial tanpa harus menjadi akhir dari seorang pengusaha.


Dari Pengusaha Menjadi Guru Entrepreneur

Setelah puluhan tahun membangun bisnis, Ciputra mulai memberikan perhatian besar pada pendidikan kewirausahaan.

Ia percaya Indonesia membutuhkan lebih banyak pengusaha.

Baginya, kewirausahaan bukan hanya cara mendapatkan kekayaan, tetapi cara menciptakan lapangan kerja dan menyelesaikan persoalan masyarakat.

Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui berbagai lembaga pendidikan dan program pengembangan entrepreneurship, termasuk Universitas Ciputra. (Universitas Ciputra)


Bisnis dan Seni

Ciputra juga memiliki perhatian besar terhadap seni.

Ia dikenal sebagai kolektor seni dan kemudian membangun fasilitas yang menggabungkan bisnis, seni, dan budaya.

Salah satu warisannya adalah Ciputra Artpreneur di Jakarta.

Hal ini menunjukkan bahwa bagi Ciputra, pembangunan kota tidak semata-mata tentang beton dan properti.

Sebuah kota juga membutuhkan budaya, kreativitas, pendidikan, dan ruang bagi masyarakat untuk berkembang.


Filosofi Ciputra: Mengubah yang Tidak Bernilai

Salah satu gagasan yang sangat kuat dalam perjalanan Ciputra adalah kemampuannya melihat nilai dari sesuatu yang belum dihargai orang lain.

Rawa dapat menjadi kawasan wisata.

Lahan kosong dapat menjadi kota.

Sebuah garasi dapat menjadi perusahaan.

Seorang mahasiswa dapat menjadi pengembang.

Dan sebuah kegagalan finansial dapat menjadi pelajaran untuk membangun kembali bisnis.

Inilah inti kewirausahaan Ciputra:

melihat peluang di balik sesuatu yang belum dianggap bernilai.


Kontroversi

Fakta

Perjalanan Ciputra tidak dapat dilepaskan dari lingkungan bisnis Indonesia pada masa Orde Baru, ketika hubungan antara pengusaha besar dan pemerintah memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi.

Ciputra memperoleh kepercayaan pemerintah DKI dalam pengembangan berbagai proyek, termasuk Ancol melalui PT Pembangunan Jaya.

Karena itu, perjalanan bisnisnya juga menjadi bagian dari sejarah hubungan antara sektor swasta dan pemerintah dalam pembangunan kota Jakarta. (BPK Jakarta)

Namun penting dibedakan antara memiliki hubungan bisnis dengan pemerintah dan tuduhan melakukan pelanggaran hukum.


Perdebatan

Keterlibatan pengusaha besar dalam proyek pembangunan yang memiliki hubungan dengan pemerintah selalu menimbulkan pertanyaan mengenai konsentrasi kekuasaan ekonomi, akses terhadap proyek besar, dan hubungan bisnis-politik.

Ciputra adalah salah satu contoh bagaimana pengusaha swasta dapat bekerja sama dengan pemerintah dalam membangun proyek berskala kota.

Perdebatan mengenai model hubungan seperti ini tetap relevan dalam ekonomi Indonesia hingga sekarang.


Rumor dan Tuduhan yang Tidak Terbukti

Seperti banyak pengusaha besar Indonesia lainnya, nama Ciputra terkadang muncul dalam berbagai narasi mengenai kedekatan dengan elite politik dan kelompok bisnis tertentu.

Namun tidak semua narasi yang beredar memiliki bukti yang cukup untuk diperlakukan sebagai fakta.

Dalam menulis sejarah seorang pengusaha, penting untuk membedakan antara hubungan bisnis yang terdokumentasi, interpretasi politik, dan tuduhan yang belum terbukti.

Karena itu, isu yang tidak memiliki dasar kuat tidak seharusnya ditulis sebagai fakta.


Legacy

Ciputra meninggal pada 27 November 2019.

Namun namanya tetap melekat pada berbagai kawasan yang dibangun dan dikembangkan selama puluhan tahun.

Tiga kelompok bisnis yang pernah dibangunnya—Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group—menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan properti Indonesia. (Universitas Ciputra)

Warisan Ciputra bahkan lebih luas.

Ia meninggalkan sekolah, universitas, lembaga pendidikan kewirausahaan, fasilitas seni, dan generasi pengusaha yang terinspirasi oleh pemikirannya.

Dengan demikian, legacy Ciputra bukan hanya berapa banyak properti yang dibangun, tetapi berapa banyak manusia yang kemudian belajar menciptakan nilai.


Pelajaran Bisnis dari Ciputra

  • Mulailah dari apa yang Anda miliki.

  • Jangan menunggu modal besar untuk memulai.

  • Lihat nilai yang belum dilihat orang lain.

  • Bangun bisnis melalui kolaborasi.

  • Jangan hanya membangun produk, bangun ekosistem.

  • Krisis bukan selalu akhir dari bisnis.

  • Kemampuan bertahan sama pentingnya dengan kemampuan tumbuh.

  • Reputasi dibangun selama puluhan tahun.

  • Bisnis keluarga membutuhkan sistem dan profesionalisme.

  • Pengusaha memiliki tanggung jawab menciptakan lapangan kerja.

  • Pendidikan entrepreneurship dapat memperluas dampak sebuah bisnis.

  • Legacy yang baik bukan hanya kekayaan, tetapi nilai yang diwariskan.


Penutup

Ciputra memulai perjalanannya sebagai seorang anak dari Parigi.

Kemudian ia merantau ke Bandung, belajar arsitektur, mendirikan usaha dari sebuah garasi, masuk ke dunia properti, membangun Ancol, mengembangkan kawasan-kawasan besar, mendirikan beberapa kelompok bisnis, lalu melewati krisis yang hampir membuat kerajaan bisnisnya runtuh.

Namun ia tidak berhenti.

Ia kembali bangkit dan kemudian menghabiskan sebagian hidupnya mengajarkan entrepreneurship kepada generasi berikutnya.

Mungkin inilah alasan mengapa Ciputra bukan sekadar disebut sebagai pengusaha properti.

Ia adalah contoh bahwa seorang entrepreneur tidak hanya membangun perusahaan. Ia membangun nilai.

Dan ketika perusahaan itu suatu hari diwariskan kepada generasi berikutnya, nilai itulah yang menentukan apakah sebuah legacy akan bertahan atau menghilang. (Universitas Ciputra)


DS 001 Steve Jobs

DS 003 Bill Gates

Komentar