Berapa lama Nabi Nuh AS berdakwah kepada kaumnya? Mengapa dakwahnya ditolak? Simak kisah Nabi Nuh AS berdasarkan Al-Qur'an, hadits shahih, dan tafsir ulama.
Pendahuluan
Setelah kesyirikan muncul di tengah manusia, Allah mengutus Nabi Nuh AS untuk mengembalikan kaumnya kepada tauhid.
Nabi Nuh bukan hanya seorang nabi yang menyeru manusia kepada Allah. Beliau adalah salah satu contoh terbesar tentang kesabaran dalam berdakwah.
Al-Qur'an memberikan informasi yang sangat luar biasa: Nabi Nuh tinggal bersama kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun, yaitu 950 tahun. Selama masa tersebut, beliau terus menyeru mereka kepada Allah. (Quran.com)
Namun panjangnya masa dakwah tidak membuat sebagian besar kaumnya menerima kebenaran.
Kisah Nabi Nuh menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah tidak selalu diukur dari banyaknya pengikut. Seorang nabi telah menunaikan tugasnya ketika ia menyampaikan risalah Allah dengan benar, meskipun orang-orang yang menerimanya sangat sedikit.
Nabi Nuh AS, Rasul Pertama Setelah Kesyirikan
Dalam hadits shahih tentang syafaat pada hari kiamat, manusia akan mendatangi para nabi untuk meminta pertolongan. Ketika mereka mendatangi Nabi Nuh, mereka menyebut beliau sebagai rasul pertama yang Allah utus kepada penduduk bumi. (Sunnah)
Ini penting untuk dipahami.
Nabi Adam AS adalah nabi pertama dan manusia pertama, sebagaimana telah kita bahas dalam seri sebelumnya.
Sedangkan Nabi Nuh AS memiliki kedudukan sebagai rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi setelah munculnya kesyirikan.
Dengan demikian, tidak ada pertentangan antara menyebut Adam sebagai nabi pertama dan Nuh sebagai rasul pertama.
Dakwah Nabi Nuh: Kembali kepada Tauhid
Allah berfirman:
"Sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Dia berkata, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah.'"
(QS. Hud: 25–26)
Inilah inti dakwah Nabi Nuh:
Jangan menyembah selain Allah.
Dakwah tersebut sama dengan inti dakwah para nabi setelahnya: mengembalikan manusia kepada tauhid.
Dalam Surah Nuh, Allah menggambarkan bagaimana Nabi Nuh menyeru kaumnya:
"Wahai kaumku! Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu. Sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatilah aku."
(QS. Nuh: 2–3)
950 Tahun Berdakwah
Allah berfirman:
"Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang zalim."
**(QS. Al-'Ankabut: 14)
Angka yang disebut Al-Qur'an adalah 950 tahun.
Namun ada satu hal penting yang perlu diperhatikan.
Ayat tersebut mengatakan bahwa Nabi Nuh "tinggal bersama mereka" selama 950 tahun. Karena itu, kita tidak boleh secara otomatis mengatakan bahwa usia total Nabi Nuh adalah 950 tahun.
Sebagian ulama tafsir menukil berbagai pendapat mengenai usia Nabi Nuh sebelum dan sesudah masa tersebut. Ibnu Katsir bahkan menyebut beberapa riwayat yang berbeda dan menunjukkan adanya perbedaan pendapat. (Quran.com)
Maka yang paling aman secara ilmiah adalah mengatakan:
Al-Qur'an memastikan bahwa Nabi Nuh tinggal dan berdakwah di tengah kaumnya selama 950 tahun, tetapi Al-Qur'an tidak menyebutkan secara eksplisit berapa usia total beliau.
Ini merupakan contoh penting bagaimana kita membedakan apa yang benar-benar disebutkan Al-Qur'an dengan rincian sejarah yang berasal dari riwayat.
Nabi Nuh Berdakwah Siang dan Malam
Nabi Nuh tidak hanya berdakwah sesekali.
Allah menggambarkan kegigihan beliau:
"Dia berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang.'"
(QS. Nuh: 5)
Kemudian beliau berkata:
"Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka dengan terang-terangan, lalu aku menyeru mereka dengan terbuka dan dengan diam-diam."
(QS. Nuh: 8–9)
Dari ayat tersebut terlihat bahwa Nabi Nuh menggunakan berbagai cara dalam menyampaikan dakwah.
Beliau berdakwah:
secara terang-terangan,
secara terbuka,
secara pribadi,
siang dan malam.
Namun penolakan kaumnya tetap terjadi.
Mengapa Mereka Menolak?
Penolakan terhadap Nabi Nuh bukan karena beliau tidak memiliki argumen.
Masalahnya adalah kesombongan dan keterikatan mereka kepada keyakinan yang telah diwariskan dari generasi sebelumnya.
Allah menggambarkan perkataan mereka:
"Kami tidak melihat engkau melainkan hanyalah manusia seperti kami, dan kami tidak melihat orang yang mengikuti engkau kecuali orang-orang yang hina di antara kami yang lekas percaya..."
(QS. Hud: 27)
Mereka melihat para pengikut Nabi Nuh dari sudut pandang status sosial.
Orang-orang yang beriman kepada Nuh dianggap rendah oleh para pemuka masyarakat.
Ini merupakan pola yang berulang dalam sejarah dakwah: kebenaran ditolak bukan karena tidak memiliki bukti, tetapi karena manusia tidak mau merendahkan kesombongannya di hadapan kebenaran.
Mereka Bahkan Menutup Telinga
Allah berfirman:
"Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari mereka ke telinganya, menutupkan bajunya ke wajahnya, tetap mengingkari dan sangat menyombongkan diri."
(QS. Nuh: 7)
Gambaran ini menunjukkan betapa kerasnya penolakan mereka.
Bukan hanya menolak argumen, tetapi bahkan berusaha tidak mendengarkan dakwah.
Meskipun demikian, Nabi Nuh tidak berhenti.
Janji Ampunan dan Keberkahan
Menariknya, dakwah Nabi Nuh tidak hanya berisi ancaman.
Beliau juga menawarkan jalan keluar:
"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu."
(QS. Nuh: 10–12)
Ini menunjukkan bahwa istighfar dan kembali kepada Allah memiliki hubungan dengan datangnya berbagai kebaikan.
Namun kaum Nabi Nuh tetap memilih penolakan.
Siapa yang Beriman?
Al-Qur'an tidak memberikan jumlah pasti berapa orang yang beriman kepada Nabi Nuh.
Allah hanya menggambarkan bahwa orang-orang yang beriman bersama beliau berjumlah sedikit.
Ketika perintah Allah untuk menaiki kapal datang, Al-Qur'an menyatakan:
"...dan muatkanlah ke dalamnya dari masing-masing jenis sepasang dan keluargamu, kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya, dan orang-orang yang beriman. Dan ternyata tidak beriman bersama dengan Nuh kecuali sedikit."
(QS. Hud: 40) (Quran)
Jadi kita tidak perlu menetapkan angka tertentu.
Berbagai angka yang sering disebut dalam kisah-kisah populer mengenai jumlah pengikut Nabi Nuh tidak perlu kita jadikan fakta apabila tidak memiliki dalil yang kuat.
Al-Qur'an cukup mengatakan: "sedikit."
Banjir Besar
Setelah penolakan berlangsung sangat lama, datanglah ketetapan Allah.
Nabi Nuh diperintahkan membuat kapal.
Ketika azab datang, air membanjiri bumi dan orang-orang yang tidak beriman ditenggelamkan.
Allah menggambarkan:
"Dan kapal itu berlayar membawa mereka di tengah gelombang laksana gunung..."
(QS. Hud: 42)
Kemudian Allah memerintahkan bumi dan langit:
"Wahai bumi, telanlah airmu dan wahai langit, berhentilah menurunkan hujan."
(QS. Hud: 44)
Air kemudian surut dan kapal Nabi Nuh berlabuh di Judi.
Al-Qur'an menyebut:
"...dan kapal itu pun berlabuh di atas Gunung Judi..."
(QS. Hud: 44)
Anak Nabi Nuh yang Tidak Beriman
Salah satu bagian paling menyentuh dari kisah Nabi Nuh adalah bahwa tidak semua keluarganya beriman.
Ketika banjir datang, Nabi Nuh memanggil salah satu anaknya:
"Wahai anakku! Naiklah bersama kami dan janganlah kamu bersama orang-orang kafir."
(QS. Hud: 42)
Namun anaknya menjawab:
"Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air bah."
Nabi Nuh menjawab bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan seseorang dari ketetapan Allah kecuali orang yang mendapat rahmat-Nya.
Gelombang kemudian memisahkan keduanya dan anak tersebut termasuk orang yang tenggelam. (Quran)
Peristiwa ini memberikan pelajaran yang sangat besar:
Nasab kepada orang saleh tidak otomatis menyelamatkan seseorang.
Yang menyelamatkan manusia adalah iman dan rahmat Allah.
Bahkan Nabi Nuh Memohon kepada Allah
Setelah anaknya tenggelam, Nabi Nuh memohon kepada Allah karena menganggap anak tersebut termasuk keluarganya.
Allah kemudian menjelaskan bahwa hubungan keluarga yang dimaksud tidak semata-mata hubungan darah ketika berkaitan dengan keselamatan akhirat.
Nabi Nuh akhirnya mengakui keterbatasan dirinya dan memohon ampun kepada Allah. (QS. Hud: 45–47) (Quran)
Ini menunjukkan ketundukan seorang nabi kepada keputusan Allah.
Fakta dan Riwayat yang Harus Dibedakan
✅ Yang dapat dipastikan
Nabi Nuh adalah rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi menurut hadits shahih.
Beliau menyeru kaumnya kepada tauhid.
Beliau tinggal bersama kaumnya selama 950 tahun.
Kaumnya menolak dan mendustakannya.
Pengikut beliau berjumlah sedikit.
Allah memerintahkan beliau membuat kapal.
Terjadi banjir besar.
Orang-orang yang tidak beriman ditenggelamkan.
Kapal berlabuh di Judi.
Salah satu anak Nabi Nuh tidak beriman dan akhirnya tenggelam.
⚠️ Yang tidak perlu dipastikan
Usia total Nabi Nuh.
Jumlah pasti pengikut Nabi Nuh.
Nama anak Nabi Nuh yang tenggelam.
Nama istri Nabi Nuh.
Ukuran kapal secara pasti.
Lokasi geografis modern Gunung Judi secara pasti sebagai identifikasi sejarah kontemporer.
Berbagai detail yang hanya berasal dari kisah populer tanpa sanad yang kuat.
Dengan cara ini, kita tetap dapat menceritakan kisah Nabi Nuh secara utuh tanpa memasukkan detail yang belum dapat dipertanggungjawabkan.
Pelajaran dari 950 Tahun Dakwah Nabi Nuh
1. Panjangnya dakwah bukan berarti kegagalan
Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, tetapi pengikutnya tetap sedikit.
Ukuran keberhasilan seorang dai bukan semata-mata jumlah pengikut.
2. Kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah
Mayoritas kaumnya menolak Nabi Nuh. Namun banyaknya orang yang menolak tidak menjadikan dakwah beliau salah.
3. Kesombongan dapat menghalangi kebenaran
Kaum Nabi Nuh mengetahui seruan beliau, tetapi kesombongan membuat mereka menolaknya.
4. Nasab tidak menjamin keselamatan
Bahkan anak seorang nabi dapat tersesat apabila tidak beriman.
5. Dakwah membutuhkan kesabaran
Nabi Nuh memberikan contoh kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi penolakan.
Kesimpulan
Kisah Nabi Nuh AS merupakan salah satu gambaran paling kuat tentang kesabaran seorang rasul dalam menjalankan amanah Allah.
Selama 950 tahun, beliau tinggal bersama kaumnya dan menyeru mereka kepada tauhid. Beliau berdakwah siang dan malam, secara terbuka maupun pribadi. Namun hanya sedikit yang beriman.
Pada akhirnya, setelah datang ketetapan Allah, banjir besar menenggelamkan orang-orang yang terus berada dalam kekufuran. Allah menyelamatkan Nabi Nuh dan orang-orang beriman melalui kapal yang kemudian berlabuh di Judi.
Kisah ini mengajarkan bahwa tugas seorang mukmin adalah menyampaikan kebenaran dan berusaha sebaik mungkin. Hidayah berada di tangan Allah.
Dan yang tidak kalah penting, sejarah Nabi Nuh mengajarkan kita untuk tidak mengisi kisah-kisah agama dengan detail yang tidak memiliki dasar kuat. Apa yang ditegaskan Al-Qur'an kita tetapkan. Apa yang shahih dari Rasulullah ﷺ kita yakini. Adapun rincian yang tidak jelas, kita serahkan kepada Allah tanpa memaksakan kepastian.
Referensi Utama
Al-Qur'an
QS. Hud: 25–49
QS. Al-'Ankabut: 14
QS. Nuh: 1–28
QS. Al-Mu'minun: 23–30
QS. Al-Qamar: 9–17
Hadits Shahih
Shahih al-Bukhari no. 4476 — Nabi Nuh disebut sebagai rasul pertama yang Allah utus kepada penduduk bumi. (Sunnah)
Shahih al-Bukhari no. 3339 — kisah Nabi Nuh dan persaksian umat Muhammad ﷺ terhadap penyampaian risalah beliau. (Sunnah)
Tafsir
Tafsir al-Qur'an al-'Azhim
Jami' al-Bayan
Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an
Taysir al-Karim ar-Rahman
Kitab Sejarah
Al-Bidayah wan Nihayah
Qashash al-Anbiya'
Catatan metodologis: Untuk seri ini, angka 950 tahun dipastikan berdasarkan QS. Al-'Ankabut: 14 sebagai masa Nabi Nuh tinggal bersama kaumnya. Kita tidak menyimpulkan dari ayat tersebut bahwa usia total beliau pasti 950 tahun. Demikian pula kita tidak menetapkan nama anak beliau yang tenggelam karena Al-Qur'an tidak menyebutkan namanya secara eksplisit. Ini merupakan bagian dari standar kehati-hatian ilmiah yang kita gunakan dalam seluruh seri sejarah Islam. (Quran.com)
Seri berikutnya #16: Kapal Nabi Nuh AS: Bagaimana Allah Memerintahkan Pembuatan Bahtera dan Siapa yang Diselamatkan?

Komentar
Posting Komentar