Siapa yang Mengendalikan Hidupmu: Kamu atau Kebiasaanmu?
"Kita membentuk kebiasaan, lalu kebiasaan membentuk kehidupan kita."
Pernahkah kamu melakukan sesuatu secara otomatis tanpa berpikir?
Bangun tidur langsung membuka ponsel.
Menunda pekerjaan sambil berkata, "Nanti saja."
Atau setelah salat Subuh justru kembali menarik selimut dan tidur lagi.
Kalau iya, berarti kamu sedang melihat bagaimana kebiasaan (habit) bekerja.
Yang menarik, kebiasaan awalnya kita ciptakan sendiri. Namun, jika dibiarkan terus berulang, lama-kelamaan justru kebiasaan itulah yang mengendalikan hidup kita.
Lalu muncul sebuah pertanyaan sederhana.
Sebenarnya siapa yang menjadi tuan? Kita, atau kebiasaan yang kita bangun?
Kebiasaan Baik Sering Kali Sudah Kita Ketahui
Sebagian besar dari kita sebenarnya sudah tahu mana yang baik dan mana yang kurang baik.
Misalnya, setelah salat Subuh.
Banyak aktivitas positif yang bisa dilakukan, seperti:
Berjalan kaki atau berolahraga ringan.
Membaca Al-Qur'an.
Berdzikir dan berwirid.
Menulis jurnal.
Membaca buku.
Menyusun agenda harian.
Belajar keterampilan baru.
Semua itu terdengar jauh lebih produktif dibandingkan kembali tidur.
Tentu ada kondisi tertentu ketika istirahat memang lebih dibutuhkan, misalnya saat sedang sakit atau kelelahan. Namun, pada hari-hari biasa, kita sering kali mengetahui pilihan yang lebih baik.
Masalahnya, mengetahui tidak selalu berarti melakukan.
Saat Kebiasaan Buruk Mengambil Alih
Tanpa disadari, kita mengulangi perilaku yang sama setiap hari.
Sekali dilakukan mungkin tidak terasa.
Dua kali masih terlihat biasa.
Namun setelah puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali pengulangan, perilaku itu berubah menjadi kebiasaan.
Akhirnya kita berkata,
"Memang dari dulu saya seperti ini."
Padahal bukan "memang", melainkan dibiasakan.
Kebiasaan buruk yang terus dipelihara perlahan menjadi bagian dari karakter kita.
Dari Mana Kebiasaan Buruk Berasal?
Jika direnungkan lebih dalam, banyak kebiasaan buruk berawal dari dua hal.
1. Ketidaktahuan
Sering kali kita melakukan sesuatu bukan karena itu benar, tetapi karena tidak mengetahui pilihan yang lebih baik.
Kurangnya membaca, minimnya referensi, sedikit pengalaman, dan enggan mencari ilmu membuat kita merasa nyaman dalam keadaan yang sebenarnya kurang produktif.
Ketidaktahuan membuat kita sulit berkembang karena kita tidak pernah menyadari bahwa ada cara yang lebih baik untuk menjalani hidup.
2. Sikap Abai
Berbeda dengan ketidaktahuan, sikap abai muncul ketika kita sebenarnya sudah tahu.
Kita tahu membaca buku lebih bermanfaat daripada menggulir media sosial berjam-jam.
Kita tahu olahraga lebih sehat daripada bermalas-malasan.
Kita tahu bangun lebih pagi memberi banyak manfaat.
Namun kita tetap memilih kebiasaan lama.
Bukan karena tidak tahu.
Tetapi karena enggan berubah.
Di sinilah ego mulai mengambil alih.
Kebiasaan Buruk Adalah Penyakit yang Tidak Terasa
Kalau dipikir-pikir, kebiasaan buruk mirip seperti penyakit.
Bedanya, penyakit ini sering kali tidak menimbulkan rasa sakit.
Justru terasa nyaman.
Karena nyaman, kita membiarkannya.
Karena dibiarkan, ia semakin kuat.
Karena semakin kuat, akhirnya kita merasa tidak mampu mengubahnya.
Padahal, penyakit yang tidak disadari sering kali lebih berbahaya daripada penyakit yang segera diobati.
Dua Penyakit yang Menghambat Perubahan
Dalam khazanah keilmuan Islam, para ulama menjelaskan bahwa manusia sering terjerumus oleh dua penyakit besar.
Pertama, pemikiran yang keliru (syubhatul fikriyah).
Yaitu ketika seseorang tidak memiliki pemahaman yang benar sehingga sulit membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Kedua, hawa nafsu yang menguasai diri (syahwatun nafsiyah).
Yaitu ketika seseorang sudah mengetahui kebenaran, tetapi memilih mengikuti keinginan dirinya.
Kedua penyakit ini saling menguatkan.
Kurang ilmu membuat seseorang mudah salah arah.
Sementara hawa nafsu membuat seseorang enggan berjalan di jalan yang benar meskipun sudah mengetahuinya.
Perubahan Selalu Dimulai dari Kesadaran
Kita tidak mungkin memperbaiki sesuatu yang tidak kita sadari.
Karena itu, langkah pertama adalah mengakui bahwa mungkin masih ada kebiasaan dalam diri kita yang perlu diperbaiki.
Setelah itu, mulailah dengan perubahan kecil.
Tidak perlu langsung mengubah semuanya sekaligus.
Satu kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten jauh lebih bernilai daripada banyak rencana yang tidak pernah dimulai.
Sedikit demi sedikit.
Hari demi hari.
Sampai akhirnya kebiasaan baik itu menjadi bagian dari diri kita.
Jadikan Kebiasaan sebagai Sahabat, Bukan Penguasa
Pada akhirnya, kebiasaan memang akan mengendalikan hidup kita.
Pertanyaannya hanya satu.
Kebiasaan seperti apa yang ingin kita biarkan mengendalikan hidup?
Jika yang mengendalikan adalah kebiasaan membaca, belajar, beribadah, bekerja keras, dan berbagi manfaat, maka arah hidup kita pun akan mengikuti kebiasaan tersebut.
Karena itu, jangan biarkan kebiasaan buruk menjadi tuan atas diri kita.
Kitalah yang seharusnya memilih kebiasaan mana yang layak dipelihara dan mana yang harus ditinggalkan.
Penutup
Perubahan besar tidak selalu dimulai dari langkah besar.
Sering kali, perubahan lahir dari satu keputusan sederhana yang dilakukan berulang-ulang hingga menjadi kebiasaan.
Mulailah hari ini.
Pilih satu kebiasaan baik yang ingin kamu bangun.
Lakukan secara konsisten.
Karena bisa jadi, kebiasaan kecil yang kamu lakukan hari ini akan menentukan seperti apa dirimu beberapa tahun yang akan datang.
Bagaimana denganmu?
💬 Kebiasaan apa yang sedang kamu perjuangkan untuk dibangun?
Atau justru ada kebiasaan buruk yang sedang berusaha kamu tinggalkan?
Yuk, tuliskan pengalamanmu di kolom komentar. Siapa tahu cerita sederhana yang kamu bagikan bisa menjadi inspirasi bagi pembaca lainnya.
Salam YASSSSSSSHHHHHH!!!

Komentar
Posting Komentar