Masyasih #7 Menggairahkan Membina



Ketika Ghirah Membina Mulai Tertidur

"Peradaban tidak dibangun oleh mereka yang hanya melihat masalah, tetapi oleh mereka yang memiliki ghirah untuk membina manusia."

Pernahkah kamu mendengar ungkapan seperti ini?

"Membina adalah kerja-kerja peradaban."

Kalimat tersebut sering terdengar di berbagai forum pembinaan, organisasi, maupun komunitas dakwah.

Namun, bagaimana respons kita ketika mendengarnya?

Sebagian orang mungkin mengangguk setuju.

Sebagian lagi menganggapnya terlalu berlebihan.

Ada yang hanya menjawab, "Iya, benar."

Lalu melupakannya beberapa menit kemudian.

Dan tentu ada juga yang sama sekali tidak merasa tergugah.

Tidak ada yang salah dengan beragam respons tersebut.

Karena setiap orang berada pada frekuensi yang berbeda.


Mengapa Frekuensi Kita Berbeda?

Kita sering mengatakan,

"Sepertinya kita tidak satu frekuensi."

Ungkapan itu sebenarnya menarik.

Tetapi pernahkah kita bertanya,

Apa yang sebenarnya bergetar sehingga disebut memiliki frekuensi?

Apakah sekadar emosi?

Semangat?

Ataukah sesuatu yang lebih dalam daripada itu?


Sesuatu Itu Bernama Ghirah

Dalam tradisi Islam, kita mengenal istilah ghirah.

Buya Hamka pernah menjelaskan bahwa ghirah memiliki makna kedekatan dengan rasa cemburu.

Namun tentu bukan kecemburuan yang lahir dari ego atau prasangka.

Ghirah adalah kecemburuan terhadap kebaikan.

Ia lahir ketika hati tidak rela melihat sesuatu yang seharusnya baik justru berjalan ke arah yang sebaliknya.

Ghirah bukan sekadar emosi sesaat.

Ia merupakan perpaduan antara pemahaman yang benar dan perasaan yang mendalam.

Karena itulah, ghirah melahirkan tindakan, bukan sekadar komentar.


Dari Ghirah Lahir Sebuah Keresahan

Orang yang memiliki ghirah tidak akan mudah merasa puas dengan keadaan.

Ia mudah terusik.

Mudah merasa resah.

Bukan karena suka mengeluh.

Melainkan karena ia melihat masih banyak hal yang bisa diperbaiki.

Keresahan inilah yang kemudian melahirkan kesadaran.

Kesadaran melahirkan kepedulian.

Dan kepedulian melahirkan tindakan.


Mengapa Tidak Semua Orang Merasa Resah?

Bayangkan ada seseorang membuang sampah sembarangan.

Bagi aktivis lingkungan, pemandangan itu bisa terasa sangat mengganggu.

Namun bagi orang yang terbiasa melakukannya, mungkin tidak ada masalah sama sekali.

Mengapa bisa berbeda?

Karena ghirah mereka berbeda.

Yang satu memiliki kepedulian.

Yang lain belum merasakannya.

Peristiwa yang sama.

Pemandangan yang sama.

Tetapi responsnya sangat berbeda.


Bagaimana dengan Dunia Pembinaan?

Sekarang mari kita kembali pada kalimat di awal.

"Membina adalah kerja-kerja peradaban."

Kalau memang demikian, mari bertanya dengan jujur kepada diri sendiri.

Apakah kondisi umat hari ini benar-benar sudah baik-baik saja?

Apakah generasi muda kita sudah cukup kuat secara akhlak?

Apakah semangat belajar Islam sudah tumbuh di mana-mana?

Apakah keluarga-keluarga muslim telah terbina dengan baik?

Kalau jawaban kita masih "belum", maka seharusnya ada sesuatu yang bergerak di dalam hati.

Sesuatu yang membuat kita tidak nyaman melihat keadaan itu.

Sesuatu yang mendorong kita untuk ikut mengambil bagian dalam perubahan.

Itulah ghirah.


Ketika Ghirah Mulai Mati

Yang berbahaya bukan ketika kita tidak mampu membina.

Yang lebih berbahaya adalah ketika kita sudah tidak lagi merasa perlu membina.

Awalnya mungkin hanya karena lelah.

Kemudian sibuk.

Lalu mulai menunda.

Akhirnya terbiasa.

Tanpa disadari, hati menjadi tumpul.

Kepekaan berkurang.

Dan perlahan ghirah itu tertidur.

Ironisnya, semua itu sering terjadi dalam keadaan yang tampak nyaman.


Jangan Biarkan Kenyamanan Mematikan Kepedulian

Kenyamanan memang tidak selalu buruk.

Namun kenyamanan bisa menjadi jebakan ketika membuat kita berhenti peduli.

Berhenti belajar.

Berhenti membina.

Berhenti bergerak.

Padahal sejarah perubahan selalu dimulai oleh orang-orang yang tidak rela melihat keadaan tetap seperti semula.

Mereka bukan manusia yang sempurna.

Tetapi mereka memiliki satu kesamaan.

Ghirah mereka tetap hidup.


Penutup

Membina bukan sekadar mengisi sebuah halaqah.

Bukan hanya menyampaikan materi.

Bukan pula sekadar menjalankan program organisasi.

Membina adalah proses menumbuhkan manusia.

Dan setiap proses membina selalu dimulai dari satu hal yang tidak terlihat.

Yaitu ghirah.

Karena ketika ghirah masih hidup, seseorang akan terus mencari jalan untuk memberi manfaat.

Namun ketika ghirah telah lama tertidur, bahkan peluang berbuat baik pun bisa terasa sebagai beban.

Maka pertanyaan terbesar bukanlah,

"Apakah saya mampu membina?"

Tetapi,

"Apakah ghirah membina dalam diri saya masih hidup, atau justru sudah terlalu lama tertidur oleh kenyamanan?"


Renungkan Sejenak

💬 Apa yang pertama kali membuatmu jatuh cinta pada dakwah, pembinaan, atau dunia yang sedang kamu perjuangkan hari ini?

Apakah semangat itu masih menyala?

Atau sudah mulai redup karena rutinitas dan kenyamanan?

Semoga kita termasuk orang-orang yang terus menjaga ghirah agar tetap hidup, hingga mampu memberi manfaat bagi sebanyak mungkin manusia.

Salam YASSSSSSSHHHHHH!!!

Komentar