Korelasi Ilmu, Wawasan, Framework, Pengambilan Keputusan, dan Perilaku


 

Bismillahirrahmanirrahim.

Di era modern, kita sering mendengar istilah open minded, berpikir rasional, dan berbasis data. Tidak sedikit orang yang meyakini bahwa selama sebuah pendapat dapat didukung oleh statistik atau logika tertentu, maka pendapat tersebut dianggap benar. Padahal, tidak semua yang tampak logis secara duniawi sejalan dengan nilai kebenaran yang diajarkan oleh agama.

Inilah pentingnya memiliki kerangka berpikir (framework) yang dibangun di atas ilmu agama. Sebab, tanpa pondasi yang benar, data dan logika dapat diarahkan untuk membenarkan hampir segala sesuatu.

Data Tidak Selalu Mewakili Kebenaran

Sebagai contoh, ada yang berargumen bahwa angka kasus pemerkosaan di beberapa negara Barat relatif rendah. Salah satu alasannya adalah karena hubungan seksual di luar pernikahan dilegalkan sehingga hubungan seksual yang dilakukan atas dasar persetujuan tidak lagi dikategorikan sebagai tindak pidana.

Dari fakta tersebut, muncul kesimpulan sederhana bahwa jika seks bebas dilegalkan di negara lain, maka angka pemerkosaan juga akan menurun. Sekilas, logika ini tampak masuk akal karena didukung oleh data hukum dan statistik.

Namun, pertanyaannya adalah:

Apakah sesuatu yang tampak berhasil secara statistik otomatis menjadi benar secara moral dan agama?

Dalam perspektif Islam, ukuran benar dan salah tidak hanya ditentukan oleh angka, tetapi juga oleh wahyu Allah, syariat, serta tujuan menjaga kemaslahatan manusia. Sebuah kebijakan bisa saja mengurangi suatu kategori tindak pidana karena definisi hukumnya berubah, tetapi belum tentu mengurangi kerusakan moral maupun dampak sosial yang ditimbulkannya.

Oleh karena itu, menjaga value atau nilai dasar dalam penyusunan hukum menjadi sangat penting. Hukum bukan sekadar mengatur perilaku manusia, tetapi juga harus menjaga kemuliaan, kehormatan, dan nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan.

Jangan Mudah Menormalisasi Kemaksiatan

Fenomena lain yang juga patut menjadi renungan adalah bagaimana perlahan-lahan kita menjadi terbiasa melihat kemaksiatan.

Hal-hal yang dahulu dianggap sebagai penyimpangan kini mulai dipandang sebagai sesuatu yang lumrah. Bahkan, tidak sedikit orang yang akhirnya membenarkan kemaksiatan dengan alasan kebebasan, hak individu, atau perkembangan zaman.

Lebih mengkhawatirkan lagi, sering kali kita lebih sibuk menunjuk kesalahan orang lain daripada mengoreksi diri sendiri.

Misalnya, ketika berada di tempat umum, kita melihat orang yang belum menutup aurat sesuai syariat. Tidak jarang kita langsung menilai bahwa dialah yang bersalah.

Padahal, dalam Islam setiap individu juga memiliki kewajiban untuk menjaga pandangan. Memandang lawan jenis dengan sengaja, berulang-ulang, atau disertai syahwat juga merupakan perbuatan yang dilarang.

Artinya, dosa tidak hanya mungkin terjadi pada pihak yang membuka aurat, tetapi juga pada orang yang membiarkan matanya menikmati sesuatu yang tidak semestinya dipandang.

Yang lebih berbahaya adalah ketika seseorang mulai menormalisasi dua hal sekaligus: membiarkan kemaksiatan di hadapannya dan menganggap remeh kewajiban menjaga pandangan. Pada titik inilah hati mulai kehilangan sensitivitas terhadap dosa.

Ilmu Membentuk Kerangka Berpikir

Setiap keputusan yang kita ambil berawal dari cara kita berpikir.

Cara berpikir dibentuk oleh ilmu dan wawasan yang kita miliki. Semakin benar ilmu yang menjadi landasan, semakin baik pula keputusan yang dihasilkan.

Sebaliknya, jika seseorang miskin ilmu atau hanya mengandalkan logika tanpa bimbingan wahyu, maka ia akan mudah bingung dalam menentukan sikap ketika berhadapan dengan persoalan kehidupan.

Karena itulah para ulama selalu menempatkan ilmu sebagai awal dari segala amal.

Ilmu melahirkan pemahaman.

Pemahaman melahirkan keyakinan.

Keyakinan melahirkan sikap.

Sikap akhirnya melahirkan perilaku.

Maka tidak mengherankan jika kualitas perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh kualitas ilmu yang ia pelajari.

Mengapa Ahli Hukum Juga Membutuhkan Ilmu Agama?

Dalam kehidupan bermasyarakat, hukum memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan arah suatu bangsa.

Oleh sebab itu, menjadi sebuah renungan bahwa seseorang yang memiliki keahlian di bidang hukum seyogianya juga memiliki pemahaman yang baik terhadap nilai-nilai agama.

Bukan berarti setiap ahli hukum harus menjadi ulama, tetapi nilai-nilai agama yang kuat dapat menjadi kompas moral dalam memandang persoalan hukum. Dengan demikian, hukum tidak hanya mengejar aspek legalitas, tetapi juga mempertimbangkan nilai keadilan, kemaslahatan, dan akhlak.

Ilmu agama memberikan orientasi tentang tujuan hidup manusia, sedangkan ilmu hukum mengatur mekanisme kehidupan bermasyarakat. Ketika keduanya berjalan seiring, diharapkan keputusan yang dihasilkan tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga membawa manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Jangan Hanya Mengejar Ilmu yang Bernilai Materi

Realitas yang sering kita jumpai adalah semangat luar biasa dalam mempelajari ilmu yang dapat meningkatkan karier, jabatan, atau penghasilan.

Kita rela menghabiskan waktu, tenaga, bahkan biaya yang besar untuk mengikuti berbagai pelatihan demi meningkatkan kompetensi profesional.

Namun, bagaimana dengan semangat kita dalam mempelajari Al-Qur'an, hadits, fikih, akidah, dan ilmu-ilmu agama lainnya?

Sering kali semangat itu tidak sebesar ketika mengejar ilmu dunia.

Padahal, ilmu agama adalah pondasi yang menjaga agar seluruh ilmu dunia yang kita miliki digunakan di jalan yang benar.

Ilmu profesional memperluas manfaat kita kepada manusia.

Sedangkan ilmu agama menjaga agar manfaat tersebut tetap berada dalam koridor yang diridhai Allah SWT.

Jika ilmu dunia berkembang tanpa pondasi agama, seseorang mungkin menjadi sangat cerdas, tetapi kehilangan arah. Sebaliknya, ketika ilmu agama menjadi dasar, maka ilmu dunia akan menjadi sarana untuk menebarkan kebaikan.

Penutup

Dunia memang penuh dengan berbagai bentuk ujian. Banyak hal yang tampak menguntungkan secara materi, tetapi belum tentu bernilai di sisi Allah SWT.

Karena itu, jangan mudah tertipu oleh ukuran dunia semata. Jangan menjadikan nominal sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan, hingga kita begitu bersemangat mempelajari ilmu yang menghasilkan materi, tetapi lalai mendalami ilmu yang menyelamatkan kehidupan dunia dan akhirat.

Marilah kita terus belajar kepada para ulama dan ahli ilmu yang lurus aqidah serta ilmunya, agar cara berpikir kita selalu dibimbing oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dengan demikian, setiap keputusan, ucapan, dan perilaku kita memiliki pondasi yang kokoh serta bernilai di hadapan Allah SWT.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kepada kita hati yang mencintai ilmu, kemampuan untuk mengamalkannya, serta keistiqamahan dalam menjaga nilai-nilai Islam di tengah derasnya perubahan zaman.

Wallahu a'lam bish-shawab.😁



Komentar