Masyasih? #10 Jangan Getas

Jangan Menjadi Manusia yang Getas

"Tidak semua yang tampak kuat benar-benar kuat. Ada yang terlihat kokoh, tetapi hancur ketika menerima benturan pertama."

Pernahkah kamu mendengar istilah getas?

Dalam ilmu material, benda yang getas bukanlah benda yang lembek.

Justru sebaliknya.

Ia keras.

Kaku.

Terlihat kuat.

Namun memiliki satu kelemahan besar.

Ia mudah retak atau pecah ketika menerima benturan.

Berbeda dengan baja.

Baja juga kuat, tetapi masih mampu melentur sebelum patah.

Karena itulah baja lebih banyak digunakan untuk membangun jembatan, gedung, hingga berbagai konstruksi yang harus menghadapi tekanan berulang-ulang.

Lalu saya berpikir...

Jangan-jangan manusia juga ada yang seperti itu.


Mental Getas

Ada orang yang tampak penuh semangat.

Memiliki cita-cita besar.

Obsesi yang tinggi.

Keberanian yang luar biasa.

Namun ketika diuji beberapa kali...

Semangatnya perlahan menghilang.

Sekali gagal, ia kecewa.

Dua kali gagal, ia mulai menyalahkan keadaan.

Tiga kali gagal, ia memutuskan berhenti.

Bukan karena tidak mampu.

Tetapi karena mentalnya getas.

Keras di luar.

Rapuh ketika menerima benturan.


Mental Seorang Pejuang

Sebaliknya, ada manusia-manusia yang luar biasa.

Mereka juga lelah.

Mereka juga kecewa.

Mereka juga pernah jatuh.

Namun mereka selalu memiliki satu kebiasaan.

Bangkit lagi.

Terpukul, bangkit lagi.

Tersungkur, bangun lagi.

Terengah-engah, tetap melangkah.

Bahkan ketika harus merangkak, mereka tetap bergerak menuju tujuan.

Bagi mereka, kegagalan bukan alasan untuk berhenti.

Melainkan bagian dari perjalanan.


Allah Tidak Menyamakan Orang yang Berjuang

Semangat seperti inilah yang diabadikan Allah dalam firman-Nya:

"Tidaklah sama antara orang-orang mukmin yang duduk (tidak ikut berjuang) tanpa uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan satu derajat..."
(QS. An-Nisa: 95)

Ayat ini mengajarkan bahwa Allah menghargai kesungguhan.

Bukan hanya hasil akhirnya.

Ada kemuliaan yang Allah siapkan bagi mereka yang memilih untuk tetap berjuang.


Ketika Allah Merevisi Sebuah Ayat

Ada kisah yang sangat menyentuh di balik turunnya ayat ini.

Dalam riwayat yang dijelaskan para ulama tafsir, termasuk Imam Ibnu Katsir, ketika ayat tersebut pertama kali diturunkan, bunyinya belum menyebutkan pengecualian bagi orang yang memiliki uzur.

Lalu datanglah seorang sahabat mulia, Ibnu Ummi Maktum, seorang tunanetra.

Beliau bertanya kepada Rasulullah ﷺ,

"Wahai Rasulullah, bagaimana dengan kami yang memiliki keterbatasan? Apakah kami juga termasuk dalam ayat ini?"

Pertanyaan itu bukan lahir dari keinginan mencari alasan untuk tidak berjuang.

Justru sebaliknya.

Beliau ingin ikut berjihad, tetapi fisiknya tidak memungkinkan.

Maka Allah menurunkan tambahan wahyu:

"...kecuali mereka yang mempunyai uzur..."

Betapa indahnya ayat ini.

Allah mengetahui isi hati hamba-Nya.

Keinginan yang tulus untuk berjuang pun tidak luput dari perhatian-Nya.


Allah Menilai Kesungguhan

Peristiwa ini mengajarkan sesuatu yang sangat penting.

Allah tidak hanya melihat apa yang berhasil kita lakukan.

Allah juga melihat seberapa besar kesungguhan kita untuk berjuang.

Seseorang mungkin tidak mampu berada di garis depan.

Namun jika ia memiliki keinginan yang tulus, Allah tetap mencatatnya sebagai kebaikan.

Sebaliknya, orang yang sebenarnya mampu tetapi memilih terus duduk tanpa alasan yang dibenarkan, tentu berbeda nilainya.


Derajat yang Tidak Bisa Kita Bayangkan

Di akhir penjelasan ayat ini, Ibnu Katsir juga menyebutkan hadis Rasulullah ﷺ tentang makna satu derajat.

Ketika seorang sahabat bertanya,

"Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan satu derajat?"

Beliau menjawab bahwa jarak antara dua derajat di surga adalah sejauh perjalanan seratus tahun.

Ini menunjukkan bahwa penghargaan Allah kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh tidaklah kecil.

Yang Allah janjikan bukan sekadar balasan.

Tetapi kemuliaan yang tidak mampu dibayangkan oleh akal manusia.


Jangan Menjadi Getas

Menjadi pejuang bukan berarti tidak pernah lelah.

Bukan berarti tidak pernah menangis.

Bukan berarti tidak pernah ingin menyerah.

Semua manusia mengalaminya.

Yang membedakan hanyalah satu.

Apakah setelah benturan itu kita tetap berdiri, atau justru pecah seperti benda yang getas.

Karena sesungguhnya, perjuangan bukan menghindari ujian.

Perjuangan adalah tetap melangkah meskipun ujian terus datang silih berganti.


Penutup

Hari ini mungkin kita sedang menghadapi benturan.

Kritik.

Penolakan.

Kegagalan.

Kehilangan.

Atau ujian yang membuat langkah terasa berat.

Jangan buru-buru menganggap semua itu sebagai tanda untuk berhenti.

Bisa jadi Allah sedang menempa hati kita agar tidak menjadi manusia yang getas.

Agar kita menjadi hamba yang tetap kokoh, tetap lembut hatinya, dan tetap istiqamah dalam memperjuangkan kebaikan hingga akhir hayat.

Karena pada akhirnya, Allah tidak menjanjikan jalan yang selalu mudah.

Tetapi Allah menjanjikan derajat yang tinggi bagi mereka yang tetap memilih untuk berjuang di jalan-Nya.

Wallahu a'lam bish-shawab.


Renungan

💬 Saat ujian datang, apakah kita mudah retak seperti benda yang getas, atau justru semakin kuat karena terus ditempa?

Semoga Allah menjadikan hati kita hati yang kokoh, bukan hati yang keras tetapi mudah pecah.

Salam YASSSSSSSHHHHHH!!!

Komentar