Ketika Allah Mengusik Kenyamanan Kita
"Kadang yang paling kita benci adalah cara Allah mengingatkan kita agar pulang kepada-Nya."
Suatu ketika saya mendengar sebuah nasihat yang disampaikan oleh Gus Baha ketika menjelaskan hikmah dari Kitab Al-Hikam.
"...Kamu akan sakit karena gesekan sosial. Mengapa kamu dibuat sakit? Supaya kamu tidak terlalu nyaman dengan makhluk, lalu kembali kepada Allah SWT."
Kalimat itu sederhana.
Namun semakin direnungkan, semakin terasa dalam.
Bukankah selama ini kita sering berharap hidup tanpa konflik?
Tanpa masalah.
Tanpa gesekan.
Tanpa orang yang mengecewakan.
Padahal bisa jadi, justru melalui gesekan-gesekan itulah Allah sedang memanggil kita untuk kembali.
Jangan-Jangan Kenyamanan Adalah Ujian
Ketika mendengar kata ujian, kebanyakan dari kita langsung membayangkan kesulitan.
Padahal, kenyamanan pun bisa menjadi ujian.
Bahkan sering kali jauh lebih berat.
Mengapa?
Karena kenyamanan mudah membuat kita lupa.
Ketika Uang Terasa Sangat Mudah Dikeluarkan
Coba ingat kembali saat kondisi keuangan sedang lapang.
Mengeluarkan Rp100.000 mungkin tidak terasa berat.
Kita membeli sesuatu tanpa banyak berpikir.
Makan di mana saja.
Parkir di mana saja.
Belanja apa saja.
Namun ketika keadaan berubah...
Uang seratus ribu rupiah terasa sangat berarti.
Setiap pengeluaran dipertimbangkan.
Bahkan memilih tempat makan pun kadang menghindari lokasi yang ada tukang parkirnya.
Lima ratus rupiah pun terasa sayang jika keluar tanpa manfaat.
Mengapa bisa berbeda?
Karena kondisi hati kita ikut berubah.
Nyaman Itu Tidak Selalu Salah
Kenyamanan tentu bukan sesuatu yang buruk.
Memiliki keluarga yang penuh kasih sayang adalah nikmat.
Memiliki lingkungan yang positif adalah karunia.
Mendapat pekerjaan yang sesuai dengan passion juga merupakan anugerah Allah.
Semua itu layak disyukuri.
Namun ada satu pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri.
Apakah kenyamanan itu membuat kita semakin dekat kepada Allah, atau justru membuat kita lupa kepada-Nya?
Di situlah letak ujiannya.
Allah Sangat Menyukai Hamba yang Mengingat-Nya
Allah SWT berfirman,
"Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu."
(QS. Al-Baqarah: 152)
Ayat ini begitu indah.
Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir mengutip penjelasan dari Ibnu Abbas bahwa ingat Allah kepada hamba-Nya jauh lebih besar daripada ingat seorang hamba kepada Allah.
Betapa besarnya kasih sayang Allah.
Kita baru mengingat-Nya sebentar.
Namun Allah membalasnya dengan perhatian yang jauh lebih besar.
Allah Mendekat Lebih Cepat daripada Langkah Kita
Rasulullah ﷺ juga menyampaikan hadis qudsi yang sangat menenangkan.
Allah berfirman:
"Barang siapa mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Barang siapa mengingat-Ku di hadapan suatu kaum, Aku akan mengingatnya di hadapan kaum yang lebih baik."
Bahkan Allah melanjutkan:
"Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia datang berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari."
Hadis ini memberikan harapan yang luar biasa.
Sering kali kita merasa jauh dari Allah.
Padahal yang diminta hanyalah satu langkah kecil untuk kembali.
Dan Allah menyambutnya dengan rahmat yang jauh lebih besar.
Mungkin Itulah Hikmah Gesekan Sosial
Saat hubungan dengan manusia terasa rumit...
Saat dikecewakan...
Saat difitnah...
Saat tidak dihargai...
Mungkin kita perlu berhenti sejenak.
Bukan hanya bertanya,
"Mengapa ini terjadi kepadaku?"
Tetapi juga bertanya,
"Apa yang Allah ingin ajarkan melalui peristiwa ini?"
Bisa jadi Allah sedang mengurangi ketergantungan kita kepada manusia.
Agar kita kembali menggantungkan hati hanya kepada-Nya.
Tempat Kembali yang Paling Nyaman
Pada akhirnya, rasa nyaman atau tidak nyaman bukan sepenuhnya ditentukan oleh keadaan.
Melainkan oleh ke mana hati kita kembali.
Kalau hati hanya bergantung kepada dunia, maka sedikit saja dunia berubah, kita akan gelisah.
Namun jika hati bergantung kepada Allah, maka dalam kesulitan sekalipun akan selalu ada tempat untuk kembali.
Karena Allah tidak pernah menolak hamba yang datang kepada-Nya.
Sebuah Pengingat untuk Diri Sendiri
Tulisan ini pertama-tama adalah pengingat bagi diri saya sendiri.
Karena saya pun sering kali terlena oleh kenyamanan.
Sering lupa bahwa dunia hanyalah tempat singgah.
Sering merasa aman ketika keadaan sedang baik-baik saja.
Padahal bisa jadi justru saat itulah saya sedang diuji.
Maka apabila suatu hari pembaca mendapati saya tidak lagi sejalan dengan apa yang saya tuliskan hari ini...
Jangan sungkan untuk mengingatkan.
Mungkin teguran itu adalah salah satu bentuk gesekan sosial yang Allah hadiahkan agar saya kembali kepada-Nya.
Dan semoga kita semua selalu dipertemukan dengan orang-orang yang berani saling mengingatkan dalam kebaikan.
Renungan Hari Ini
💬 Apa "kenyamanan" yang saat ini paling berpotensi membuat kita lalai dari mengingat Allah?
Mungkin harta.
Mungkin jabatan.
Mungkin pekerjaan.
Mungkin lingkungan.
Atau mungkin... diri kita sendiri.
Semoga Allah tidak membiarkan hati kita terlalu lama nyaman dengan dunia, hingga lupa bahwa sebaik-baik tempat kembali hanyalah kepada-Nya.
Salam YASSSSSSSHHHHHH!!!

Komentar
Posting Komentar